Mengusung cerita Sang Hanoman, sutradara Pewayangan, Budi Lee, menjelaskan ada 70 kru dari penari, pengrawit, dan tokoh pewayangan yang terlibat. Wayang orang ini menggambarkan Hanoman dari kelahiran dan sosok Hanoman yang mempunyai jiwa kesatria untuk memerangi angkara murka Rahwana.
"Meskipun Hanoman merupakan kera, tapi Hanoman ini merupakan titisan dewa. Bagaimanapun juga, Hanoman memiliki kewajiban untuk menegakkan kebenaran. Artinya zaman sekarang butuh sosok kesatria untuk memerangi angkara murka yang terjadi," ujarnya.
Kegiatan ini merupakan sosialisasi berantas rokok ilegal. "Sambil kita melaksanakan pagelaran wayang orang, kami juga mensosialisasikan melalui aksi pertunjukan bagaimana bahayanya rokok ilegal agar lebih mudah diterima masyarakat," katanya.
Sub Koordinator Atraksi Budaya Bidang Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Sarosa, menambahkan, Pemkot Semarang mendapatkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau dari Bea Cukai. "Kami mensosialisasikan tentang cukai tembakau, supaya masyarakat membeli rokok bercukai. Sehingga nantinya kembali ke masyarakat untuk pembangunan termasuk pagelaran seni budaya ini. Dan ini rutin per tahunnya," ujarnya didampingi oleh Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Arief Tri Laksono.
Arief berharap melalui wayang orang ini sosialisasi berantas rokok ilegal dapat tersampaikan kepada masyarakat. "Maka kami gelar di Oudetrap Kota Lama ini untuk menjadi magnet masyarakat yang berkunjung," ujarnya.
Salah satu pemain wayang orang, Alfida Novi Sahara, mengungkapkan sosialisasi berantas rokok ilegal dikemas dalam pagelaran wayang orang. Dirinya menjadi istri Bagong ketika sesi dagelan berkomunikasi langsung dengan punakawan yang ada, membahas ciri rokok ilegal, dan sanksi rokok ilegal.
Novi -sapaan akrabnya- berharap sosialisasi dengan dikemas seni dapat menarik antusiasme masyarakat. "Ketika banyak yang nonton, kita sisipkan sosialisasi kan dapat diterima," tuturnya.
Salah satu mahasiswa Undip, Nur Laila sangat kagum dengan pagelaran wayang orang ini. Menurutnya, pagelaran ini berbeda dengan di Medan. "Karena di sini sangat kental budayanya, kalau di Medan sangat jarang ditemui," ujar mahasiswi pertukaran Sabang-Marauke itu. (fgr/bas) Editor : Agus AP