Salah satu terdampak adalah Sumarno. Ia mengaku daya beli dan minat masyarakat membeli buku turun drastis. Padahal, biasanya tiap mendekati bulan April, momentum tahun ajaran baru, banyak siswa sibuk mencari buku untuk keperluan sekolah. Tapi sejak dua tahun terakhir momen tersebut menghilang.
“Kondisi seperti sekarang, sekolah pun jarang. Jadi ya mengandalkan kalau gurunya menyuruh membeli buku apa gitu untuk keperluan sekolah,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Toko yang berlokasi di Jalan Stadion Diponegoro Timur, Karangkidul, Semarang ini buka mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Sebagian besar buku yang dijual adalah buku pelajaran. Mulai dari tingkat SD, SMP, ataupun SMA. Marno juga menyediakan buku-buku perguruan tinggi dari berbagai bidang ilmu. Selain buku akademik, buku lain seperti Alquran, komik hingga novel juga ada.
Ia menambahkan, kondisi sebelum pandemi berbeda 180 derajat dengan sebelum pandemi. Dahulu ia bisa meraup untung dua hingga tiga juta perharinya. tapi selama pandemi omzet merosot. “Era pandemi ini boro-boro. Kadang sehari laku cuma satu juga pernah. Bisa dapet Rp 500 ribu sudah alhamdulillah,” katanya.
Persaingan tak hanya dengan pandemi dan antarpedagang saja. Melainkan makelar buku juga menjadi tantangan bagi pedagang buku stadion. Para makelar yang tidak punya modal, namun tetap bisa berjualan secara grosir. Buku-buku tersebut dijual di bawah harga pasar. Meski begitu, ia tetap optimistis dengan dagangannya.
Untuk mensiasati agar bertahan, Marno dibantu anaknya memasarkan buku-buku dagangan melalui online. Tetapi tak semua buku ia jual, hanya buku-buku tema tertentu seperti buku yang berkaitan dengan teknik komputer.
“Kalau saya ngikutin pedagang di sini menjual buku di toko online dengan harga murah, nggak bisa. Jatuhnya rugi. Selain itu, bakal ngerusak harga pasar juga,” ungkapnya.
Hal serupa juga diutarakan Anas, pembelajaran daring menjadi faktor utama matinya pedagang buku. Sekarang siswa lebih diprioritaskan untuk membeli kuota internet ketimbang buku. “Pandemi kan yang dibutuhin sekarang malah kuota Mas. Buku jadi nomor sekian,” akunya. (cr6/ida) Editor : Agus AP