Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Ceng Beng, Tradisi Nyadran Masyarakat Tionghoa

Agus AP • Senin, 11 April 2022 | 17:46 WIB
Umat keturunan Tionghoa membakar uang-uangan dan doa di Bong Bunder, Mugas, Semarang, untuk mengenang para leluhur. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Umat keturunan Tionghoa membakar uang-uangan dan doa di Bong Bunder, Mugas, Semarang, untuk mengenang para leluhur. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Masyarakat Tionghoa melakukan upacara Ceng Beng di Bong Bunder, Mugas, Semarang, Minggu (10/4) pagi. Upacara tersebut bertujuan untuk mengenang para leluhur dan merekatkan masyarakat Tionghoa.

Pengurus Yayasan Tjie Lam Thay, Widyanto, menjelaskan, upacara Ceng Beng merupakan tradisi untuk memeringati para leluhur. "Kalau umumnya itu nyadran atau nyekar," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (10/4).

Upacara Ceng Beng seharusnya dilakukan pada 4 atau 5 April. Namun, pihaknya memilih Minggu (kemarin) karena banyak yang bisa hadir di hari itu. Terdapat dua makam di Bong Bunder. Yakni di sebelah kanan merupakan makam masyarakat umum yang dipindahkan dari Petolongan. Sementara sisi kiri merupakan makam para Bhiku yang dipindahkan dari Petolongan. "Pemindahan kerangka ini, zaman Belanda," katanya.

Pengurus lain, Pranoto menambahkan, pemindahan makam dari Petolongan dilakukan pada zaman Belanda pada 1717. Dulunya di Petolongan difungsikan sebagai kuburan Tionghoa. Lalu kelompok Arab masuk, dan dipindahkan ke Bong Bunder.

Zaman Belanda itu, kata dia, menghindari masyarakat Tionghoa berkembang dan untuk menghindari keributan di Batavia. "Maka, orang Tionghoa disekat dan didatangkan orang-orang di Petolongan. Lalu kuburannya dipindahkan ke sini," ceritanya.

Upacara Ceng Beng seperti Nyadran. Dengan rangkaian acara memberikan sesajian, melakukan sembahyang, dan berdoa. Diakui, Pecinan Semarang pada zaman Belanda berbeda dengan daerah lain. "Masyarakat Tionghoa dipaksa dijadikan satu dan dibatasi. Jadi, bukan berkumpul tapi dipaksakan," katanya.

Senada, pengurus lain, Aman Gautama menjelaskan, ada prasasti tua yang hingga kini masih tertempel di ujung Jalan Petolongan. Prasasti itu dulunya sebuah tugu kecil. "Karena makin banyak rumah, maka ditempelkan di dinding bangunan," jelasnya.

Prasasti dibuat sehubungan adanya pemindahan sejumlah kerangka dari makam tua di Petolongan, yakni pada masa Kapiten der Chinezen Tan Yok Sing. "Kerangka kemudian dimakamkan kembali di Bong Bunder ini. Lokasinya di belakang komplek SMA Negeri 1 Semarang," tuturnya. (fgr/zal) Editor : Agus AP
#Bong Bunder #Mugas #tionghoa #Ceng Beng #Nyadran