Proses pengukuhan cukup unik dan meriah. Warga melakukan arak-arakan dengan memanggul simbol negara, burung garuda lengkap dengan lima simbol sila di dadanya. Pengukuhan dilakukan langsung Wali Kota Semarang.
Lurah Tlogosari Kulon, Andreas Dwi Agung Nugroho, mengatakan, toleransi masyarakat di wilayahnya cukup tinggi. Bahkan ketika perayaan keagamaan, warga saling membantu meski beda agama. Dicontohkan, ketika perayaan Natal, penjagaan gereja atau ibadah dilakukan dari Banser NU. Di RW 15 dan 18, terdapat Gereja Kristen Jawa, Kapel Santa Theresia, Pura Amertasari, dan Masjid Al-Mubarok, jaraknya berdekatan. Ke depan, kampung ini akan dijadikan kampung tematik.
"Minggu ini Gereja Katolik dan Gereja Kristen ada ibadah. Kemudian di Pura ada perayaan. Mereka saling menghormati," katanya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjelaskan, Kampung Pancasila sebagai simbol di Tlogosari Kulon. Mengingat wilayah ini memiliki budaya, etnis dan agama yang beraneka ragam. Seperti pura, gereja, masjid, yang saling berdampingan. "Saya rasa dengan ikon ini semakin yakin dan meneguhkan hati. Perbedaan itu adalah hal yang harus dihormati dan menjadi kekuatan bangsa,” tandasnya. (fgr/zal) Editor : Agus AP