Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Ganjar Minta Replikasi Program Satu OPD Satu Desa Dampingan

Agus AP • Sabtu, 5 Maret 2022 | 17:59 WIB
DIAMANKAN: Dua tersangka spesialis pencuri kendaraan, Surani dan Hariyanto saat diintrogasi petugas Polres Kendal, Jumat (26/5). (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIAMANKAN: Dua tersangka spesialis pencuri kendaraan, Surani dan Hariyanto saat diintrogasi petugas Polres Kendal, Jumat (26/5). (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Pengentasan kemiskinan menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Karena itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berharap Program Maju Bareng direplikasi menyeluruh di kabupaten/kota. Hal itu disampaikan Ganjar saat memberikan pengarahan dalam Rapat Evaluasi dan Koordinasi Desa Dampingan tahun 2022 secara daring, Jumat (4/3) kemarin.

Program Maju Bareng yang dimaksud Ganjar adalah Satu OPD Satu Desa Dampingan. “Kekuatan yang dari kedinasan, saya kira tinggal jalan saja. Replikasi-replikasi menurut saya bisa kita lakukan sebagai satu contoh,” ujar Ganjar.

Replikasi akan baik dilakukan oleh pemerintah daerah yang memiliki peta lebih jelas mana daerah kategori merah, kuning, dan hijau. Sehingga target menggeser desa dari merah ke kuning, kemudian kuning menjadi hijau akan cepat tercapai.

“Semua yang terlibat, pasti akan membuat satu cerita bagus. Petanya bisa masuk ke peta desa yang miskin, mana target yang diambil. Kemudian diletakkan program dan didampingi sampai ada hasil. Ini yang jadi PR besar kita karena kerja kita mesti bersama-sama,” ujarnya.

Ganjar mengatakan, model pengentasan kemiskinan di Jateng akan diintegrasikan pada daerah yang masuk prioritas pemerintah pusat terkait Pengentasan Kemiskinan Ekstrem (PKE).

“Treatment kita yang paling berbeda di seluruh Indonesia. Karena tidak hanya diberikan top up Rp 300 ribu saja, tapi kemudian ada gerakan gotong royong. Ini spirit yang bagus sekali,” ujar Ganjar.

Dari gerakan itu, Ganjar menyebutkan banyak yang ingin turut serta membantu. Salah satunya dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) yang ingin membantu terkait air bersih.

“Ini sangat membahagiakan. Bahkan, ada beberapa perusahaan, meski belum optimal, ya ayo kita jawil dengan CSR-nya. Kita kerahkan untuk jadi satu. Itu menurut saya akan jadi sesuatu yang bisa efektif untuk kita gerakkan,” tegas Ganjar.

Sebanyak 172 desa di Jateng sudah mendapat pendampingan sejak 2019. Setidaknya ada 48 OPD yang terlibat. Pendampingan dilakukan dengan berbagai program. Mulai dari pemberdayaan, RTLH, jambanisasi, dan lainnya.

“Sekali lagi saya sampaikan terima kasih, semangat teman-teman luas biasa. Kreativitas luar biasa, dan hasilnya mulai kelihatan. Percayalah proses yang baik tidak akan ingkar, hasilnya akan baik. Tapi kita perlu tabah dan serius untuk melakukan itu,” tandas Ganjar.

Sedangkan hasil evaluasi capaian terhadap 114 Desa Dampingan tahun 2019-2020 dengan membandingkan Data BDT/DTKS bulan Januari dan bulan Oktober 2020, diperoleh hasil bahwa secara total terdapat penurunan jumlah Anggota Rumah Tangga Miskin (ART) dari 404.885 ART menjadi 400.624 ART atau penurunan sebanyak 4.261 orang miskin.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen menambahkan, Pemprov Jateng menyadari bahwa program pengentasan kemiskinan tidak akan tuntas tanpa mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi jangka panjang masyarakat miskin. Karenanya, pada tahun 2022 ini Pemprov Jateng menggandeng keterlibatan Komite Ekonomi Kreatif dalam pengembangan program desa dampingan.

“Saya berharap bantuan-bantuan kita tidak bersifat bangunan saja atau infrastruktur saja ya. Tapi bagaimana membuat ekonomi kreatif. Masyarakat bisa memiliki potensi income yang kontinyu,” tutur Taj Yasin usai memimpin Rapat Evaluasi Desa Dampingan 2021 dan Rencana Pelaksanaan Desa Dampingan 2022 di Gradhika Bhakti Praja, Jumat (4/3).

Sebanyak 83 desa yang didampingi, nantinya akan dilakukan assesment oleh Komite Ekonomi Kreatif. Tujuannya untuk mengetahui dan memetakan potensi ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

“Kita ajak meninjau di 83 desa. Nanti dipetakan. Yang bisa ada potensinya daerah mana. Saya yakin nggak semua 83 desa dampingan yang didampingi kawan-kawan OPD memiliki potensi anak-anak muda yang bisa diarahkan kesana,” katanya.

Kehadiran Komite Ekonomi Kreatif dalam pengembangan program desa dampingan diharapkan bisa menjadi daya ungkit ekonomi baru di desa-desa yang didampingi. Antara lain membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi desa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Misalnya UKM-UKM yang saat ini tumbuh ternyata masih terkendala pemasaran. Mereka nggak punya pasar. Atau mungkin pemilik UKM tidak punya orang ahli dalam berbahasa Inggris. Kita nanti mungkin bisa menemukan hal-hal baru. Bisa kita link-kan kepada para pelaku UKM di Jateng,”
Taj Yasin mengaku terinspirasi dengan ekonomi kreatif yang tercipta di perusahaan obat tradisional dan kosmetik, saat dirinya melakukan kunjungan kerja di Cilacap. Perusahaan tersebut tidak terdampak pandemi Covid-19 karena mampu menggerakkan ekonomi kreatif melalui pemberdayaan masyarakat dan digital marketingnya.

Dengan menciptakan ekonomi kreatif, Taj Yasin optimistis akan menumbuhkan potensi income yang kontinyu bagi masyarakatnya. Sehingga, kesejahteraan masyarakat di di desa-desa miskin akan meningkat. (akr/ida) Editor : Agus AP
#Gubernur Jateng Ganjar Pranowo #Satu OPD Satu Desa Dampingan #Replikasi Program #Replikasi Program Satu OPD Satu Desa Dampingan