"Untu feeder 3 ini kita sediakan 12 armada di dua pool, yakni di Banyumanik dan Terminal Penggaron, dengan dua armada cadangan," kata Kepala BLU UPTD Trans Semarang Hendrix Setiawan saat sosialisasi feeder 3 di Balai Bahasa Jawa Tengah, Jumat (25/2).
Sosialisasi ini mengundang Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Tembalang dan Banyumanik, Komisi C DPRD Kota Semarang, Organda, Kepolisian dan beberapa stakeholder lainnya.
Hendrix menjelaskan, armada feeder 3 ini bisa mengoneksikan dengan armada Trans Semarang maupun Trans Jateng. Misalnya, di Terminal Penggaron, bisa terkoneksi dengan Trans Semarang koridor I dan Trans Jateng jurusan Gubug, Grobogan.
"Wilayah Kedungmundu bisa terkoneksi dengan koridor 5 dan feeder 2. Lalu di wilayah Bukit Kencana terkoneksi koridor 5. Di Tembalang bisa terkoneksi dengan koridor 6, dan di Pasar Banyumanik bisa terkoneksi dengan armada koridor 2," jelasnya.
Dikatakan, hampir semua wilayah di Kota Semarang sudah ter-cover armada Trans Semarang. Pihaknya pun sedang melakukan kajian untuk kembali menambah rute baru.
"Tarifnya untuk umum cukup membayar Rp 3.500, sedangkan pelajar dan lansia hanya dikenakan Rp 1.000 sesuai dengan Perwal," jelasnya.
Total armada feeder di Kota Semarang, kata Hendrix, ada 245 unit, ditambah dengan feeder 3 menjadi 257 unit. Dari jumlah itu, 90 persen siap beroperasi. Hanya 10 persen yang belum beroperasi karena di feeder 1 beberapa waktu lalu sempat tersangkut kasus wanprestasi.
"Kalau rute baru kita sedang ada kajian. Saat ini semua wilayah hampir semua ter-cover oleh Trans Semarang," bebernya.
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang HM Rukiyanto menjelaskan, jika penambahan rute feeder 3 ini sebelumnya sudah direncanakan jauh-jauh hari agar bisa meng-cover wilayah Penggaron, Kedungmundu, Sigar Bencah, dan sekitarnya.
"Sudah ada kajian dan memang dibutuhkan. Rencananya awal Maret nanti di-launching. Harapan kami bisa memenuhi kebutuhan masyarakat untuk konektivitas transparan umum," katanya.
Rukiyanto menjelaskan, adanya armada feeder ini juga memiliki kegunaan untuk mengurangi kemacetan di Kota Semarang. Menurutnya, ke depan akan dilakukan kajian lagi terkait masukan dari Organda untuk bisa menggandeng angkutan umum sebagai sub feeder.
"Organda tadi minta digandeng untuk jadi sub feeder. Nanti kita buat kajian dulu, dan dilakukan diskusi dengan Organda, BLU, Dishub, dan lainnya terkait kebutuhan armada sub feeder yang dibutuhkan,"bebernya.
Ketua DPC Organda Kota Semarang Bambang Pranoto Purnomo berharap agar angkutan perkotaan bisa digandeng oleh Pemkot Semarang. Dikarenakan, saat ini persaingan dengan transportasi online membuat anggotanya kesulitan.
"Sebelum pandemi di Kota Semarang ada 2.300 angkot, sekarang tinggal 1.200 saja. Hal itu menjadi bukti angkot di Kota Semarang berkurang hampir separonya dalam waktu dua tahun," paparnya.
Bambang mengatakan, meski berkurang banyak, menurutnya, masyarakat masih membutuhkan angkot. Misalnya, di wilayah yang belum terjamah transportasi umum.
"Saya mewakili para pemilik dan pengemudi angkot yang tersisa di Kota Semarang agar bisa dilibatkan menjadi sub feeder Kota Semarang. Supaya angkot yang tersisa masih bisa hidup," harapnya. (den/cr3/aro) Editor : Agus AP