Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Malam 1 Sura, Penjamas Keris Kebanjiran Order

Agus AP • Selasa, 10 Agustus 2021 | 17:45 WIB
Prosesi Pengambilan air di Taman Soka, Tegalwaton. (Nurfaik Nabhan/Jawa Pos Radar Semarang)
Prosesi Pengambilan air di Taman Soka, Tegalwaton. (Nurfaik Nabhan/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tradisi memandikan benda pusaka berupa keris atau tombak kerap dilakukan setiap bulan Sura. Para pemilik benda pusaka ini biasa melakukannya lewat jasa penjamas. Salah satunya Ndaru Handoko Aji, warga Batan Timur Raya, Semarang. Ia kebanjiran order dari para kolektor keris.

“Bukan hanya bulan Sura saja, namun setiap harinya masih tetap mendapatkan orderan. Memang setiap Sura lebih ramai. Untuk hari ini (kemarin) saja sudah ada 20 keris yang siap dijamas,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, Senin (9/8/2021).

Pria asli Semarang ini telah menekuni jasa penjamasan keris sejak 1980 ketika dirinya masih duduk di bangku SMP. Bermula dari sang ayah yang berprofesi sebagai seorang penjamas keris, membuatnya tertarik untuk mengikuti jejaknya.

Menurut Ndaru, tidak ada ritual khusus yang digunakan dalam proses memandikan keris. Bagi sebagian orang menjamas keris dipercaya untuk menjaga kesaktiannya. Namun, menurut Ndaru, menjamas keris dilakukan untuk menjaga keawetan keris.

“Dalam pencucian keris biasanya saya menggunakan air kelapa untuk merendam keris yang sudah berkarat. Juga menggunakan jeruk nipis, sabun, lerak, dan warangan,” paparnya.

Dikatakan, bagian yang paling penting dan sukar saat mencuci keris harus sampai terlihat pamornya. Untuk bisa mengeluarkan pamor pada keris, kata dia, biasanya menggunakan warangan. Namun jika keris tersebut tidak memiliki pamor, maka pencucian keris hanya menggunakan air kelapa, jeruk nipis, dan sabun.

“Pamor pada keris merupakan hasil penyatuan antara besi dengan logam meteorit. Antara besi dan meteorit dilipat menjadi beberapa lapis dalam keadaan panas, sehingga muncul gambar abstrak. Inilah yang menyebabkan keris berbeda-beda hasil corak pamornya,” jelasnya.

Setelah keris dimandikan, tahap selanjutnya mengolesi dengan minyak hasil racikannya sendiri agar mendapatkan hasil yang mengkilap. “Minyak keris ini diracik dari bunga mawar, bunga melati, bunga kantil, bunga kenanga, kayu cendana, dan kelapa gading,” bebernya.

Sejumlah pejabat sekaligus kolektor keris pernah menggunakan jasanya dengan memanggil ke rumah. Untuk tarif jasa pencucian keris, Ndaru mematok harga Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung dari kualitas keris yang akan dijamas.  “Semakin tinggi kelas suatu keris, maka semakin tinggi juga tarif pencuciannya. Kolektor keris juga menyadari hal itu,” katanya.

Diakui, meski pandemi Covid-19, masih banyak warga yang menjamaskan kerisnya. Mulai dari para kolektor keris dalam negeri maupun luar negeri. (mg1/mg9/aro) Editor : Agus AP
#keris #penjamas