“Kalau hujan deras, warga selalu merasa waswas karena tanahnya yang gerak terus. Takutnya rumah roboh menimpa penghuni rumah yang ada di dalam,” kata Haryanto, kemarin (31/5/2021).
Keempat rumah itu milik Hartono, Uut Nusantoro, Dimas dan Haryanto. Hartono sendiri mengaku sengaja membuat kamar dari bambu yang ditutup terpal di luar rumah induk. Rumah bambu itu ia tempati ketika ingin istirahat tanpa merasa waswas. “Kalau hujan, tanahnya gerak dan bisa terjadi longsor kapan saja. Bahkan akhir-akhir ini sering terjadi hujan, tanahnya bisa langsung jalan ke bawah,” tambahnya.
Sedangkan rumah yang dia tempati saat ini, kalau tidak ada hujan atau siang hari bisa digunakan untuk istirahat. Tapi kalau malam hari terjadi hujan, maka anak dan cucunya langsung lari ke rumah bagian belakang. “Septitank saja bisa hilang turun ke bawah. Makanya, saya menanam pohon bambu di depan rumah agar tanahnya tidak turun ke bawah,” jelasnya.
Haryanto menambahkan, selain menanam pohon bambu, ia menutup area rumahnya dengan terpal. Tujuannya agar air itu tidak bisa masuk ke pondasi rumah, untuk menahan terjadinya longsor.
“Jadi terpal itu harus dipasang terus menerus, sehingga air tidak bisa masuk dan meresap ke dalam tanah. Ini saja masih kurang terpalnya, terutama untuk melapisi saluran air agar langsung lari ke sungai. Jika air hujan dibiarkan masuk meresap ke dalam tanah, akan mempercepat terjadinya longsor,” paparnya.
Sedangkan warga lainnya, melakukan kerjabakti dengan membuat trucuk dari bambu yang pasang di depan rumah yang rawan longsor. Kemudian tengahnya diisi tanah yang diambil di dekat sungai. “Dengan seperti itu, maka tanah tidak melorot ke bawah. Terpal untuk sementara bisa mengatasi masalah ini,” imbuhnya.
Hartono mengaku sebelum terjadi longsor, pihaknya sudah ditawari untuk pindah tetapi dia tolak. Lantaran luasan tanahnya kecil, tidak sebesar yang ia miliki saat ini 1.000 meter persegi.
Lurah Srondol Kulon, Sri Rahayu Ningsih mengatakan, untuk menahan longsor di Dukuh Ngasinan membutuhkan biaya besar sekitar Rp 15 miliar. Karena itulah, saat Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang hanya bisa membantu pembuatan bronjong, untuk menekan tanah agar tidak turun ke bawah.
“Kami hanya bisa membantu pembuatan bronjong. Karena yang punya dana UPTD. Sedangkan dana itu dari BBWS. Bersyukur, warga sudah merasa senang karena tidak terjadi longsor,” katanya.
Menurutnya warga sendiri sudah ditawari ruislag, tapi tidak mau. Karena tanah yang ada di Ngasinan luasnya lebih besar daripada yang ditawarkan oleh pemerintah. “Tapi warga tidak mau dan lebih memilih tinggal di Ngasinan meskipun tanahnya labil,” katanya. (hid/ida) Editor : Agus AP