Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mobilitas Masih Tinggi, Kualitas Udara Semarang Tak Berubah

Agus AP • Jumat, 10 April 2020 | 21:36 WIB
Kualitas udara di Semarang tak berubah signifikan pada saat gencarnya imbauan diam di rumah. Mobilitas orang di luar rumah dengan kendaraan masih tinggi, Kamis (9/4/2020). (Nanang Rendi Ahmad/Jawa Pos Radar Semarang)
Kualitas udara di Semarang tak berubah signifikan pada saat gencarnya imbauan diam di rumah. Mobilitas orang di luar rumah dengan kendaraan masih tinggi, Kamis (9/4/2020). (Nanang Rendi Ahmad/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Imbauan diam di rumah agaknya tak begitu diperhatikan warga Kota Semarang. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik kualitas udara Semarang yang menunjukan tidak ada perubahan signifikan.

Dari pantauan BMKG Jawa Tengah, polusi udara di Semarang relatif sama seperti sebelum adanya wabah korona. Hal ini menunjukan masih banyaknya aktivitas dan mobilitas warga di luar rumah dengan kendaraan.

Kasi Data Infokom BMKG Jawa Tengah Iis Widya Harmoko menuturkan, dua pekan terakhir sejak 25 Maret  hingga 8 April 2020 kadar karbondioksida (Co2) paling rendah berada di angka 423 ppm, yakni pada Sabtu (28/4/2020). Sementara tertingi terjadi pada Rabu (25/3/2020) yakni 496 ppm.

"Jadi relatif tak ada perubahan signifikan. Masih banyak mobilitas orang di luar rumah dengan kendaraan. Selain itu mungkin aktivitas lain seperti pabrik dan lain sebagainya," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/4/2020).

Ia menambahkan, berdasarkan grafik, kadar Co2 selalu turun pada akhir pekan. Namun selalu melonjak lagi setelahnya."Pernah terjadi kenaikan yang cukup tinggi yakni pada Sabtu (4/4/2020) di angka 434 ppm, melonjak di Senin (6/6/2020) menjadi 490 ppm. Ini bisa menunjukan bahwa di luar akhir pekan, mobilitas orang sangat tinggi," tuturnya.

Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sedang gencar mengampanyekan diam di rumah (stay at home). Bahkan melakukan penutupan jalan-jalan protokol untuk mengurangi mobilitas orang."Bila dicermati, kadar Co2 terendah yakni 423 ppm terjadi ketika Pemkot baru saja memberlakukan penutupan jalan. Namun setelah itu naik kembali," ujarnya. (nra/bas)

  Editor : Agus AP
#Polusi #Berita Semarang #Kualitas Udara