Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Menolak Penggunaan Plastik, Transaksi dengan Kreweng

Agus AP • Kamis, 5 Maret 2020 | 15:21 WIB
RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG POHON UANG: Ratmi saat memetik bunga telang di kebunnya.
RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG POHON UANG: Ratmi saat memetik bunga telang di kebunnya.
RADARSEMARANG.ID, - Pasar Minggon Jatinan di Hutan Kota Rajawali Kota Batang ini konsisten menolak penggunaan plastik. Pasar yang hanya buka hari minggu ini sudah beroperasi sejak 2018. Aturan ketat pasar ini, baik pedagang maupun pengunjung dilarang pakai plastik.(RIYAN FADLI, Batang, Radar Semarang).

DI Pasar Minggon Jatinan, pedagang tidak menyediakan plastik sebagai pembungkus produk yang dijual. Mereka menggunakan wadah tradisional, seperti gerabah dari tanah liat, dedaunan, hingga keranjang bambu.

Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan merasakan secara langsung suasana bak zaman dahulu di sana. Seluruh pengelola dan pedagang juga mengenakan pakaian tradisional, semakin menambah kekhasan tempat tersebut.

Uniknya lagi, transaksi di pasar itu tidak menggunakan uang. Pengelola telah menyediakan kreweng sebagai alat transaksi. Pengunjung bisa menukar satu kreweng bertuliskan Minggon Jatinan Batang dengan uang senilai Rp 2 ribu.

Pedagang jajanan rambut nenek, Dilah, 56, mengaku menjual satu bungkus jajanan rambut nenek dengan satu keping Kreweng. Pembungkus jajanannya pun cukup menarik. Ia menggunakan daun pisang. "Tidak boleh ada plastik di sini," katanya.

Pedagang lain juga tidak menyediakan plastik untuk membungkus dagangannya. Mereka lebih memilih dedaunan, seperti daun jati dan pisang. Pedagang yang kedapatan melanggar aturan bakal mendapatkan sanksi. Berupa poin negatif, yang akan diakumulasikan setiap bulannya. Selain bebas plastik, lokasi tersebut juga terbebas dari asap rokok.

Suasananya cukup nyaman. Di bawah pohon jati, pengunjug bersantai di lincak yang telah disediakan. Pengunjung Pasar Minggon Jatinan didominasi keluarga dan pasangan muda-mudi. Mereka juga terlihat asyik berselfie pada spot foto yang ada.

Ketua Pengelola Pasar Minggon Jatinan Alim Alfatah menjelaskan, tempat tersebut akan terus mempertahankan nuansa tradisional. Begitu pula dengan ciri Kota Batang, seperti ditunjukkan pada makanan tradisional yang tersedianya. Seperti nasi demang dan nasi megono.

"Kami menjaga kearifan lokal, dari lingkungan yang disetting sedemikian rupa, juga makanan dan minuman khas zaman dulu biar tetap eksis," ucap pria 28 tahun ini.

Ia menambahkan, Kreweng yang digunakan sebagai alat pembayaran itu sebagai ciri khasnya Pasar Minggon Jatinan. Selain makanan, tersedia pula mainan tradisional untuk mengedukasi pengunjung.

"Proses terus berjalan. Kami evaluasi kekurangan yang ada. Ke depannya kami juga harus perbaiki terus. Tidak cukup sampai di sini, kami harus kreatif," kata Alim—sapaan akrabnya.

Salah satu pedagang mainan tradisional, Zakiah mengaku berjualan sejak 1,5 tahun lalu. Walaupun ada penurunan jumlah pengunjung, ia masih bisa mendapatkan rata-rata 200 Kreweng sekali berjualan. Pasar Minggon Jatinan sendiri buka mulai pukul 06.00, dan tutup saat dagangan habis sekitar pukul 11.00. (*/aro) Editor : Agus AP
#Menolak Penggunaan Plastik #Transaksi dengan Kreweng