Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Harga Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang Sugeng Dilianto menjelaskan, konsumsi masyarakat terhadap gula turut mempengaruhi tingginya permintaan jelas Ramadan. “Tapi kami pastikan, meski ada kenaikan, harganya masih aman dan wajar,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (24/2) kemarin.
Apalagi, imbuhnya, stok gula pasir masih melimpah. Masyarakat diimbau agar tidak khawatir. Masyarakat bisa memantau perkembangan harga pokok melalui Sistem Informasi Perdagangan Kota Semarang (SIP’S).
“Naiknya harga bulan ini pada kisaran Rp 500 sd Rp 1000. Di SIP’S, masyarakat bisa membandingkan harga-harga kebutuhan pokok di beberapa pasar. Sehingga bisa langsung update informasi,” imbuhnya.
Di Pasar Peterongan, harga gula pasir naik di Rp 13.000 dari harga sebelumnya Rp 12.000. Sementara, di Pasar Gayamsari harga gula pasir dalam negeri adalah Rp 14.500 dari harga sebelumnya 12.500.
Sebaliknya, harga gula pasir di Relokasi Pasar Johar terpantau masih tetap di Rp 13.500. Sama halnya juga di Pasar Karangayu Rp 14.500 dari harga sebelumnya masih sama.
Nur Hanifah, salah satu pedagang di Pasar Bulu mengatakan harga gula pasir mulai mengalami kenaikan sejak awal tahun. “Sekarang Rp 14.500 per kilogram. Dari sebelumnya yaitu Rp 14.000. Normalnya Rp 10.000 per kilogram. Tapi masih stabil, hanya saja harganya lebih dari harga biasanya,” katanya.
Menurutnya, naiknya harga gula pasir disebabkan oleh beberapa faktor. Karena musim penggilingan sudah berakhir. Jadi stoknya menipis, sehingga harga dinaikkan. Baru tahun ini seperti ini. “Ini paling tinggi selama saya jualan,” paparnya.
Meskipun hrga gula pasir naik, tidak memengaruhi daya konsumsi masyarakat. Masyarakat lebih menyukai gula lokal daripada gula impor. “Gula impor katanya kurang manis. Asal stok dan barangnya ada, konsumen tidak masalah,” tandasnya. (avi/ida) Editor : Agus AP