Hal itu mengakibatkan harga bawang putih kini melonjak naik. Semula Rp 30.000 perkilogram, sekarang menjadi Rp 55.000 sampai Rp 60.000 perkilogram.
Mariyani, salah satu pedagang sembako di Pasar Bulu mengaku saat ini persediaan tinggal sedikit. Dirinya juga resah dengan naiknya harga bawang putih yang mengakibatkan penjualan menurun drastis.
Berbeda dengan Tri Sulistiyanto pedagang bawang di Pasar Johar yang mengatakan bahwa saat ini harga bawang sudah turun. Yang semula Rp 55.000 menjadi Rp 48.000. “Walaupun harganya sudah turun tapi pembeli masih rendah. Biasanya saya ambil 25 sak perhari, sekarang hanya 15 sak. Kalau pembeli yang biasanya beli 10 kilogram, sekarang hanya 5 kilogram,” katanya saat mengupas bawang.
Menanggapi kondisi itu, Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Provinsi Jawa Tengah Ngargono mengatakan, naiknya bawang putih dikhawatirkan menjadi permainan oknum. Pasalnya, harga bawang putih tidak dipatok seperti tepung atau minyak goreng. “Permainan harga agak sulit dikendalikan,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Penghentian impor sementara ini agak mengkhawatirkan. Kalau tidak jelas batas waktunya, mungkin stok bawang putih juga tidak jelas. Harga bisa dipermainkan. “Ini tidak menguntungkan bagi konsumen,” imbuhnya.
Bagi Ngargono, momentum ini justru bisa menggenjot produksi bawang putih di dalam negeri walaupun kualitasnya berbeda. Indonesia akan bangkit dan mandiri. Namun membutuhkan waktu yang cukup lama. “Ini menjadi peluang pemerintah di bidang pertanian untuk bisa mempersiapkan swasembada bawang,” katanya.
Masalahnya, minat konsumen terhadap bawang lokal sangat rendah. Namun ketika disediakan tetap bisa terserap. “Daya beli masyarakat Indonesia cenderung mengikuti tren kenaikan harga, namun pada harga tertentu tidak dapat mengikuti akhirnya lari ke harga yang lebih murah,” katanya. (ifa/ida) Editor : Agus AP