Meski Pemkot Semarang baru menggunakan dua unit mobil Esemka tipe Bima untuk keperluan dinasnya, namun hal tersebut mampu meyakinkan masyarakat jika mobil produk lokal itu sudah dapat mengaspal di jalanan kota. Upaya memperkenalkan kembali mobil Esemka itu sendiri secara tersirat disampaikan oleh Hendi.
"Ini untuk menumbuhkan minat masyarakat kepada karya anak bangsa yang kualitasnya hebat ini. Apalagi yang ada saat ini sudah dimodifikasi dengan dilengkapi power steering, dan bisa menggunakan bahan bakar gas yang dikombinasi dengan pertalite, karena sudah dipasangi converter," jelas Hendi saat mencoba mobil Esemka di halaman Balai Kota Semarang, Jumat (31/1).
"Esemka Bima 1.3 ini mobil niaga yang keren, tarikannya juga oke karena 1.300 cc. Pokoknya asyik, nggak kalah sama mobil buatan Jepang, tinggal bagaimana menumbuhkan minat warga," tambahnya.
Hendi sendiri berencana menambah lagi mobil Esemka untuk Pemerintah Kota Semarang. "Hari ini Esemka menjadi bagian dari kendaraan dinas Pemkot Semarang yang peruntukkannya sebagai mobil sarpras BRT Trans Semarang. Ke depannya, saya rasa masih banyak peluang," ujar Hendi.
"Ini sudah dua, anggaran perubahan bisa ditambah dua lagi. Kami upayakan konsisten mendorong produk anak bangsa menjadi produk yang berkembang," imbuhnya.
Di sisi lain, Plt Kepala BLU Trans Semarang Hendrix Setiawan mengungkapkan, jika mobil Esemka Bima 1.3 yang digunakan oleh instansinya dibeli dengan kisaran harga Rp 120 juta. Dengan harga tersebut untuk tipe standar, Esemka pun diyakini sebenarnya mampu untuk memenangkan pasar mobil niaga di Indonesia. Untuk itulah, Pemerintah Kota Semarang melalui BLU Trans Semarang mencoba ikut memperkenalkan Esemka ke masyarakat. "Ini sekaligus mendukung program Bapak Presiden untuk bisa menggunakan produk lokal," katanya. (den/aro) Editor : Agus AP