Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Dua Pasien Masih dalam Pengawasan

Agus AP • Kamis, 30 Januari 2020 | 14:15 WIB
GRAFIS
GRAFIS

”(Tiga pasien itu) Ada di RSUD Dr Moewardi, RSUD Prof Dr Margono Soekarjo dan di RSUP Dr Kariadi. Untuk kewaspadaan, kemarin sempat diisolasi selama tiga hari, dan hari ini adalah hari terakhir.”


Yulianto Prabowo
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng


 

RADARSEMARNG. ID, SEMARANG, – Jawa Tengah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus korona. Sejumlah upaya dilakukan melalui deteksi dini dan respon cepat dengan penyiapan rumah sakit khusus. Sejauh ini masih ada dua pasien terduga terinfeksi virus korona yang masih dalam pengawasan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo mengatakan, di Jateng memang ada beberapa orang yang dirawat dan diberikan penanganan khusus di ruang isolasi, karena diduga terinfeksi virus korona. Dari hasil pemeriksaan, secara klinis beberapa pasien dinyatakan negatif dan sudah dipulangkan.

”(Tiga pasien itu) Ada di RSUD Dr Moewardi, RSUD Prof Dr Margono Soekarjo dan di RSUP Dr Kariadi. Untuk kewaspadaan, kemarin sempat diisolasi selama tiga hari dan hari ini adalah hari terakhir,” ujarnya di kompleks kantor Gubernur Jateng, Rabu (29/1) siang.

”Memang yang di Kariadi ini ada riwayat dari Tiongkok, tapi secara klinis kondisinya dinyatakan baik,” imbuhnya.

Sementara beberapa sudah dinyatakan negatif, saat ini masih ada dua pasien yang dilakukan penanganan dan pengawasan hingga dinyatakan negatif.

Yulianto menjelaskan, mereka yang terinfeksi virus ini memiliki ciri-ciri panas tinggi, batuk, pilek, gangguan pernafasan dan pneumonia atau infeksi pada paru-paru. Terutama mereka yang memiliki riwayat mengunjungi daerah endemis atau kontak dengan penderita. Diagnosis pastinya adalah, ketika telah ditemukan virus korona pada pasien.

”Dilakukan uji lab di Jakarta. Satu-satunya lab yang bisa mendeteksi virus itu. Semuanya sudah ada prosedurnya dan memang perlu waktu. Setidaknya tiga hari, untuk memastikan apakah pasien positif atau negatif,” jelasnya.

”Dan selama pemeriksaan seperti ini, apabila ada kasus, pasien tetap diperlakukan atau dirawat di ruang khusus,” tambahnya.

Yulianto megimbau kepada masyarakat untuk membiasakan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan virus ini. Diharapkan dengan daya tahan tubuh yang bagus, virus tidak akan mudah untuk masuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga Siti Zuraidah mengatakan, mahasiswa S3 di Wuhan, Tiongkok, yang dirawat di RSUP dr Kariadi diketahui seorang dosen PTN di Jogjakarta. Sebelum dirujuk ke RSUP dr Kariadi, pria 41 tahun yang baru pulang dari Wuhan itu berada di Salatiga. Nah, saat di Salatiga itu, yang bersangkutan mengalami gejala flu, yang kemudian berobat ke RSUD Salatiga.

Karena ada riwayat tinggal di Wuhan sebagai daerah endemis virus korona, maka yang bersangkutan langsung dirujuk ke RSUP Kariadi Semarang. “Untuk hasilnya belum diketahui menunggu hasil laboratorium di Jakarta,” kata Siti Zuraidah.

Dikatakan Zuraidah, dalam mengantisipasi penyakit yang disebabkan
virus korona ini, pihaknya telah melakukan siaga dan membentuk tim
gerak cepat. "Kami juga akan menerbitkan surat edaran, dalam 1x24 jam
kepada OPD pelayanan kesehatan agar melakukan pemeriksaan pasien
dengan keluhan batuk dan pilek agar diperiksa lebih detail," ujarnya.

Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Semarang Hasti Wulandari mengatakan, warga yang mengalami gejala batuk pilek menyerupai gejala virus korona, untuk segera memeriksakan diri ke puskemas terdekat. Pihaknya juga mengatakan masih terus update perkembangan virus yang menghebohkan dunia ini.

"Kami memang tidak memiliki rumah sakit dengan fasilitas ruang isolasi. Rujukan ke RSUP dr Kariadi Semarang atau di RSUD
Moewardi Solo memang lebih tepat," ungkapnya, Rabu (29/1).

Terpisah, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah Sinoeng N Rachmadi mengatakan, saat ini Jateng menutup untuk sementara pintu masuk bagi wisatawan mancanegara. Baik darat, laut, maupun udara. Terutama dari negara endemis virus korona, Tiongkok.

”Kami juga meminta kepada para pegiat wisata untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Yakni, dengan menyiapkan tim pemantau di pintu masuk wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Penutupan sementara ini dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisata ke Jateng, mengingat awal tahun merupakan low season kunjungan wisatawan mancanegara ke Jateng.

”Berdasar data, kunjungan wisatawan mancanegara dari Tiongkok tahun 2019 tidak terlalu besar. Hanya 0,52 persen dari total keseluruhan 691 wisatawan mancanegara. Tidak terlalu berpengaruh,” tandasnya.

Penutupan sementara ini, jelas dia, akan dilakukan hingga virus korona dapat teratasi. Ia berharap penutupan hanya dilakukan selama tiga bulan. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan penutupan sementara akan dilakukan hingga enam bulan ke depan.

”Semoga tidak terlalu lama karena mulai Agustus nanti sudah masuk peak season kunjungan wisatawan mancanegara ke Jateng. Tapi akan kami dorong selama Agustus-Desember nanti,” ujarnya. (sga/sas/ria/aro) Editor : Agus AP
#Dua Pasien Masih dalam Pengawasan