Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Sasar Warga Menengah ke Bawah, Ada Kelas Ibu-Ibu

Agus AP • Selasa, 21 Januari 2020 | 14:00 WIB
DOKUMEN PRIBADI ASAH BAKAT SENI: Sudar Yono dan anak didiknya saat tampil di salah satu mal di Kota Semarang.
DOKUMEN PRIBADI ASAH BAKAT SENI: Sudar Yono dan anak didiknya saat tampil di salah satu mal di Kota Semarang.
RADARSEMARANG.ID,- Memiliki latar belakang di bidang seni musik, membuat Sudar Yono mendirikan Sanggar Pak Dar. Guru SMP Negeri 2 Semarang ini tidak menyangka jika sanggar seninya bisa menjadi wadah berlatih bagi anak-anak hingga para orangtua. Seperti apa? (ALVI NUR JANAH, Radar Semarang).

SANGGAR yang beralamat di Jalan Klipang, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang tampak ramai. Sanggar itu menempati rumah berukuran 200 meter persegi. Sebelum bernama Sanggar Pak Dar, dahulu bernama les vokal dan presenter Pak Dar. “Justru yang memberi nama Sanggar Pak Dar adalah orang lain. Nama itu dipakai sampai sekarang. Berawal dari kumpul-kumpul di ruangan, sampai sekarang sudah rutin mengadakan konser tahunan,”tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (20/1).

Musik baginya sudah mendarah daging. Anak-anak dengan rentang usia remaja dilatih dan dibina sesuai bakat dan potensi yang dimiliki. “Saya mengusung prinsip multiple intelegent, artinya kecerdasan yang dimiliki anak-anak beraneka ragam. Orang itu kecerdasannya beda-beda, maka harus dikembangkan sesuai dengan kelebihan dia,”jelasnya.

Sudar Yono menambahkan, setiap anak mempunyai kecerdasan yang pantas untuk didukung oleh orang tua. “Terutama soal akademik, ada yang cerdas dalam bidang matematika, ada yang cerdas di bidang bahasa, olahraga dan bermacam-macam. Nah di seni ini, kita mewadahi dan terus membina kelebihannya. Jangan mencari kelemahannya dan jangan dikotak-kotakkan,”papar Alumni IKIP Semarang 1990 ini.

Didirikan pada 11 Maret 2018, sudah ratusan bakat dan kelebihan yang berhasil dilahirkan melalui sanggarnya. “Konser pertama di Giant Penggaron itu sangat bersejarah. Saat itu hanya 50 anak yang bergabung, sekarang jika ditotal pasti setiap hari ada yang berlatih di sanggar. Sampai kami menyewa rumah yang lebih besar untuk menampung mereka,”jelas pria berusia 52 tahun ini.

Dengan dibantu satu karyawan, guru-guru dari UNNES, ia memfasilitasi anak-anak. Tidak hanya vokal dan presenter, tetapi ada kelas musik, keyboard, biola, gitar, drum, orkestra, modern dance, tradisional dance, melukis dan lain-lain. Mereka menggunakan studio untuk berlatih pada masing-masing bidang. Ternyata, musik bukanlah alasan satu-satunya untuk mendirikan sanggar.

“Saya selalu ingin memberikan manfaat kepada orang lain. Bisa saya hanya melalui sanggar musik ini. Begitu mahalnya untuk les musik, sehingga saya dirikan sanggar yang menyasar kepada masyarakat menengah ke bawah. Saya selalu ingin musik dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali,”kata pria yang pernah bekerja di Yamaha Music ini.

Seni sangat dibutuhkan dan sangat penting dalam kehidupan. Dengan seni, seseorang akan merasa percaya diri. Ia selalu bangga terhadap anak didiknya dengan memberikan kata-kata penuh semangat. “Saya selalu memotivasi anak-anak. Misalnya, harus wajib bersyukur karena masih diberi suara yang indah. Sharing dengan orang tua untuk jadwal latihan dan membagi waktu di sela-sela waktu sekolah. Biar tidak memberatkan les seni dan waktu untuk sekolah,”terangnya.

Total sudah 220 anak yang tergabung di Sanggar Pak Dar. Ruangan bekas gudang disulap menjadi studio. Total terdapat lima studio yang biasa mereka gunakan untuk berlatih. Anggota atau anak-anak yang berlatih berasal dari sekitaran rumah, hingga warga Genuk, Ngaliyan dan Pedurungan.
“Biasanya latihan setiap hari. Pembinanya ada 10 orang, dari semua jenis musik sampai fotografi dan saxophone,”katanya.

Berbagai rentang usia diterima dan dilatih. Mulai dari umur tiga tahun hingga orang tua. Kelas khusus orang dewasa juga dijadwalkan setiap minggu, “Ada kelas ibu-ibu. Ada yang private untuk public speaking, acara mantenan, pelantikan. Kalau untuk anak-anak setiap hari latihan,”ungkap pria asli Purworejo ini.
Berkat kegigihannya dalam membina bakat, tawaran untuk kerja sama dan mengisi acara pun berdatangan. “Kerja sama dengan beberapa swalayan untuk mengisi live music, tampil dalam event organizer, dan yang rutin selalu tampil di stasiun TV untuk mengisi dunia anak,“ujarnya. (*/aro) Editor : Agus AP
#Sasar Warga