alexametrics

Suku Bunga Kredit BPR MAA, Rugikan Debitur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – BPR MAA perlu melakukan penerapan suku bunga kredit yang terlalu tinggi dan berbeda dengan ketentuan Bank Indonesia (BI). Sebab, penerapan suku bunga tersebut telah merugikan salah satu debiturnya bernama Imam Kustadi.

Kadiv Litigasi LSM GMBI Semarang, Andi Akar Kusuma SH dan Wafa akbar yang mendampingi Imam Kustadi menyebutkan, kliennya yang buta tentang permasalahan kredit, sedang menghadapi permasalahan suku bunga tinggi. Total pinjaman mencapai Rp 63 juta.

Sebelumnya kliennya sempat menjaminkan tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Kauman 2 RT 10/RW 1 Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Kota Semarang sebagai jaminan. “Ini karena adanya pandemi Covid-19, berdampak kepada ekonomi klien kami, sehingga terjadi keterlambatan pembayaran cicilan. BPR MAA menawarkan restrukturisasi sekitar Rp 54 juta, pada Juni 2020 lalu,” ujar Andi Akar.

Baca juga:  Pemohon Paspor Haji dan Umrah Membeludak

Namun, katanya, ada kejanggalan dalam penetapan suku bunga yang diterapkan oleh BPR MAA. Yakni, hanya dengan membayar dalam 3 tahun pertama pada Agustus 2013 sebesar Rp 822.600. Setelah itu diminta melakukan pembayaran setiap bulan sampai April 2020 lalu sebesar Rp 1 juta.

“Klien kami tidak pernah terlambat dalam pembayaran sehingga total angsuran yang sudah masuk dari pihak debitur kepada kreditur yaitu BPR MAA kurang lebih sebesar Rp 73.163.600. Maka dari itu apakah selama ini pihak klien kami yang membayar rutin selama 7 tahun hanya dihargai 8 jutaan?” tambahnya.

Padahal saat ini Bank Indonesia (BI) sedang menerapkan penurunan suku bunga berbanding terbalik. BPR MAA bertentangan dengan keputusan BI. “Maka kami pada 2 April 2021 telah mengirimkan surat aduan kepada OJK dan BI Jateng tentang apa yang diterima klien kami, supaya ditindaklanjuti jika ada kesalahan administrasi oleh BPR MAA,” tandasnya.

Baca juga:  CARFik Manjakan Pelanggan Setia

Sementara itu, Imam Kustadi mengungkapkan jika dirinya merasa sudah melakukan pembayaran. Katanya ada kesalahan pada komputer di pihak BPR MAA. “Dulu sudah hampir 2 kali rumah saya mau digaris polisi. Padahal saya sudah konfirmasi ke Manager Area BPR MAA Kedungmundu dan mereka menyatakan ada kesalahan,” imbuhnya. (*/sct/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya