alexametrics

Perhatikan 19 Wilayah Paling Rentan Bencana Alam

Dinas ESDM Jateng Petakan Wilayah Rentan dengan Curah Hujan Tinggi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, sebanyak 19 di antaranya memiliki potensi sangat tinggi mengalami bencana alam. Bahkan, menurut pemetaan potensi longsor yang dilakukan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, 10 kota lainnya termasuk tinggi dan sembilan daerah tergolong menengah.

Upaya pemetaan tersebut telah dilakukan Dinas ESDM Jateng sejak 2010 silam berdasarkan topografi lereng dan aktivitas manusia di wilayah tersebut. Terakhir, 27 kabupaten/kota dilaporkan pada tingkat kerentanan menengah hingga sangat tinggi.

Kepala Dinas ESDM Jateng Sujarwanto Dwiatmoko menjelaskan, sejak Oktober lalu pihaknya menerbitkan hasil overlay pemetaan wilayah rentan dengan curah hujan yang diprediksi BMKG selama sebulan ke depan. Dengan begitu, potensi terjadinya longsor parah diketahui lebih awal dari prediksi bulanan tersebut. “Hasil overlay itu jadi perhatian kepala daerah untuk mitigasi warga di titik-titik rentan yang perlu diwaspadai,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tanda biru dan hijau menandakan wilayah aman dari potensi bencana. Lalu kuning pertanda potensi menengah dan perlu siaga. Kemudian merah termasuk rawan bencana dan harus sangat waspada.

Kepala Bidang (Kabid) Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Provinsi Jateng Heru Sugiharto menyampaikan pihaknya masih mengedukasi masyarakat rawan bencana. Mereka diajari membaca tanda-tanda dan melakukan pencegahan dini.

“Kalau curah hujan tinggi di atas 300 mm per bulan, lalu ada retakan di lereng itu jadi pertanda. Sehingga bila terjadi hujan deras selama 3 jam, mereka perlu segera melakukan evakuasi diri,” katanya.

Baca juga:  Pasien Rawat Inap Terima Paket Sembako

Indonesia yang terletak di wilayah cincin api dunia, sehingga menjadikan negara ini rawan mengalami bencana geologi, seperti gunung meletus, gempa bumi, hingga tsunami. Meski tak bisa diprediksi dengan akurat, upaya mitigasi, adaptasi, dan penataan ruang masih bisa dilakukan. Sehingga risiko bisa ditekan.

Plt Kalakhar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Safruddin mengakui, sejatinya masyarakat sadar bila tinggal di wilayah rawan bencana. Hanya saja, kadang belum memahami ancaman yang menanti. “Seperti tsunami, itu bukan hanya tinggi air mencapai 3 meter, tapi volumenya juga sangat besar dan sangat berbahaya. Begitu pun longsor,” tandasnya.

Dr Supartoyo ST MT, Koordinator Kelompok Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI menambahkan, Indonesia ini secara geotektonik, posisinya unik. Merupakan pertemuan empat lempeng dunia. Yaitu lempeng Indo Australia di sebelah selatan, lempeng eurasia, lempeng pasifik, dan lempeng laut Philipina. Dari pertemuan keempat lempeng ini, membentuk zona subsduksi atau penunjaman. Ini sumber pembangkit tsunami. Selain itu, terjadi gunung berapi terbanyak di dunia. “Bencana geologi merupakan bencana yang tidak bisa diprediksi. Sehingga upaya terbaik adalah dengan melakukan tiga, yakni mitigasi, adaptasi, dan penataan ruang untuk mengurangi risiko bencana geologi. Ini sudah dilakukan Pemprov Jateng dengan cukup baik,” tandasnya.

Baca juga:  Jasa Raharja Gandeng Korlantas Sinergikan Aplikasi JRKu dengan ETLE
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Sujarwanto Dwiatmoko

Pemprov Jateng Ajarkan Mitigasi hingga Evakuasi Diri

Sampai saat ini pemerintah masih terus mengedukasi warga di kawasan rawan bencana untuk melakukan mitigasi. Warga diajarkan cara membaca tanda-tanda bencana hingga mengevakuasi diri.

Para stakeholder sepakat bila bencana menjadi tanggung jawab bersama. Maka, tak hanya pemerintah yang melakukan upaya mitigasi. Namun masyarakat juga perlu terlibat langsung, karena justru merekalah yang mengalami bencana itu.

“Kemarin kami sosialisasi di Banjarnegara dan Purworejo dengan mendatangkan pakar geologi,” kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Sujarwanto Dwiatmoko kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Beberapa daerah rawan bencana seperti Cilacap, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Magelang, Kebumen, juga telah mendapatkan eduksi sebelumnya. Dengan medatangkan pakar, diharapkan warga dapat memahami kondisi wilayahnya. Sedangkan secara praktis, pihaknya mampu memahamkan warga. “November kemarin 2 kali ke sekolah dan masyarakat,” imbuhnya.

Pihaknya mengajarkan pola retakan tanah di bukit dan dataran tinggi. Lalu mengukur sendiri bila terjadi pelebaran retakan dan segera menutup dengan tanah. Kemudian kemunculan mata air baru juga dapat menjadi salah satu pertanda bencana yang perlu diwaspadai. “Misal di atas bukit ada aliran sungai yang terhambat longsoran, itu juga perlu diwaspadai adanya potensi banjir bandang,” katanya.

Baca juga:  Pameran Manufacturing Tarik 35.400 Pengunjung Bisnis

Plt Kalakhar BPBD Jateng Safruddin mengatakan, pihaknya telah memasang eraly warning system (EWS) di permukiman yang rawan mengalami bencana. Sehingga aparat desa yang mampu membaca tanda-tanda memiliki peran mengajak masyarakat untuk melakukan evakuasi diri ke pengungsian bila EWS berbunyi. “Karena kita nggak mungkin langsung ada di TKP saat bencana terjadi,” jelasnya.

Pihaknya telah memetakan 14 potensi bencana yang mungkin terjadi di Jateng selama musim penghujan ini. Perlu adanya penekanan pencegahan dan kesiapsiagaan dalam hal ini. Mulai membaca gerakan tanah, titik evakuasi, hingga pemahaman soal penurunan muka tanah yang banyak terjadi di Jateng.

Lebih lanjut, edukasi bencana di daerah rawan telah menjadi bagian dari materi pelajaran sekolah. Sehingga tak hanya orang dewasa, anak-anak pun mengerti dan mampu menyelamatkan diri.

“Upaya mitigasi lainnya, kami siapkan tim pengkaji bencana. Bila ada laporan kami tinjau ke lapangan, apakah ada potensi bencana susulan atau seperti apa,” pungkasnya.

Respon baik masyarakat ditunjukkan dengan kemampuan mereka tanggap bencana dan mengevakuasi diri. Para kepala desa sukses memahamkan warganya. Hal itu turut meminimalisasi jumlah korban saat bencana terjadi. (taf/bis/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya