alexametrics

Dukung Kembalikan Kejayaan Emping Batang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Kabupaten Batang terutama di Kecamatan Limpung punya sejarah panjang sebagai produsen emping melinjo. Aktivitas ngemping atau menumbuk biji melinjo hingga pipih itu mengakar di masyarakat. Bahkan, menemani keseharian warga.

Seiring perkembangan zaman, aktivitas ngemping mulai ditinggalkan. Pohon-pohon melinjo yang dahulu banyak tumbuh, kini sudah sangat jarang. Melihat situasi tersebut, Komunitas Batang Kopi pun berinisiatif kembali menghidupkan kembali tradisi itu. Walaupun secara nama, mereka konsen di bidang pengembangan kopi. Namun hal itu tak menjadi masalah.

Sejak empat bulan lalu, aktivitas ngemping secara bertahap kembali ramai dilakukan warga. Terutama ibu-ibu, sebagai usaha sampingan yang dapat menambah penghasilan. Sebanyak 250 orang sudah diberdayakan, mayoritas mereka adalah ibu rumah tangga. Berasal dari belasan desa di tiga kecamatan, yaitu Tersono, Pecalungan, dan Reban.

“Di Kecamatan Tersono ini ada tujuh desa, Tersono, Boja, Pujut, Kebumen, Tempuran, Tegalombo, dan Pakis,” ujar Diaz, salah satu pengelola Komunitas Batang Kopi.

Baca juga:  Bank bjb Raih Top 50 Emiten

Pusat produksinya ada di Desa Pujut, Kecamatan Tersono. Proses membuat emping ini melibatkan banyak orang untuk diberdayakan. Mulai metik biji, pengeringan, ngemping, hingga pengemasan.

Hal itu karena seluruh proses dilakukan secara manual. Warga mengambil biji melinjo secara gratis, kemudian mereka menumbuk biji melinjo di rumahnya masing-masing. Ibu-ibu itu diberi kebebasan dalam proses ngemping, baik dari waktu maupun jumlahnya. Setelah terkumpul, jasa ngemping akan dibayar oleh Komunitas Batang Kopi. Mereka menyetorkan ke gudang berapapun beratnya.

Jasa ngemping itu dihargai Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu. Menyesuaikan kualitas emping yang ditumbuk. Pengerjaan 8 ton biji melinjo menjadi emping basah bisa rampung dalam dua minggu. Dalam proses itu bakal terjadi penyusutan hingga 50 persen.

Diaz menjelaskan, dalam satu minggu pihaknya bisa memproduksi 3 ton emping kering, atau 12 ton dalam satu bulan. “Nutukki emping ini sudah menjadi budaya, masyarakat sini. Dari pada ngobrol ngalor-ngidul mendingan ngemping. Di Limpung sini dulu ada sejarahnya, tapi sekarang sudah jarang,” ucapnya.

Baca juga:  Dongkrak Perekonomian Syariah, BI Jateng Helat Talkshow Bisma 2

Selama ini, emping melinjo produksi Batang sudah dipasarkan hingga keluar pulau Jawa. Seperti Bali, NTT, dan Kalimantan. Menurutnya, pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi produksi dan pemasaran emping. Namun, cuaca dianggap lebih mempengaruhi produksi emping.

“Produksi emping ini langsung berhubungan dengan Tuhan. Supaya Tuhan memberikan panas, agar bisa membantu produksi emping yang masih manual ini,” timpalnya.

Saat ini, ia merasa kesulitan mendapatkan bahan baku biji melinjo. Pohon melinjo sudah sangat jarang ditemui di Kabupaten Batang. Ia berharap ada perhatian khusus, sehingga petani kembali menanam pohon melinjo.

Salah satu warga, Rosiamah, 34, merasa sangat terbantu dengan aktivitas ngempingnya. Ia mengerjakannya sembari berjualan, kemudian untuk mengisi waktu luang di malam hari.

“Saya baru satu bulan lebih ikut ngemping, Alhamdulilah bisa menambah penghasilan. Sehari biasanya bisa menghasilkan 3 kilogram emping,” ucapnya.

Baca juga:  Warga Batang 10 Tahun Terbaring di Kasur Usai Ditabrak Mobil

Sementara itu, Bupati Batang Wihaji berharap petani kembali menanam pohon melinjo yang sekarang sudah jarang ditemui. Hal itu supaya produksi emping lebih banyak memanfaatkan bahan baku lokal. Menurutnya, aktivitas ngemping bisa memberdayakan ribuan orang. Masyarakat bisa memperoleh penghasilan tambahan.

Branding untuk emping itu harus punya sejarah, punya dasar. Kalau tidak punya sejarah, branding itu susah. Pasar akan alamiah menyesuaikannya,” kata Wihaji.

Menurutnya, emping ini menjadi salah satu kekuatan produk lokal Kabupaten Batang sebagai makanan oleh-oleh. Pihaknya selalu mengompori penjualan produk oleh-oleh di tempat wisata. Supaya menyediakan produk-produk lokal, karena sebagai ciri khas. Wisatawan akan mengingatnya saat berkunjung ke Batang.

“Arah bandar, arah Dieng, pasti orang yang melintas akan mampir. Karena jalur wisata. Produk-produk lokal seperti emping, kopi, pisang tanduk, durian, dan lain sebaginya akan menarik wisatawan untuk mampir. Karena menjadi ciri khas,” tandasnya. (yan/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya