alexametrics

Tim PKM PI Undip Ciptakan Kolam Pintar Terintegrasi Smartphone

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Menjadi mahasiswa dituntut untuk selalu menghasilkan karya kreatif dan inovatif. Tidak hanya itu, nilai kebermanfaatan juga menjadi hal penting. Seperti yang dilakukan oleh salah satu tim PKM PI (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek) Undip 2021. Tim diketuai oleh Diastuti Nur Alfiyanti dari Akuakultur 2018. Dengan empat anggota, yaitu Ayu Putri Lestari (Teknik Kimia 2018), Savero Pakavi Zahrudin (Teknik Elektro 2019), Muhammad Adib Ubaidillah (Teknik Elektro 2020), dan M. Fahreza Aulia (Teknik Elektro 2018). Mereka didampingi dosen pendamping Dr Ir Suminto MSc.

Kelima mahasiswa itu mengangkat karya kreatif kolam pintar ramah lingkungan berbasis Internet of Things yang terintegrasi smartphone.  Kolam pintar ini diyakini bisa meningkatkan produktivitas budidaya ikan koi. Mitra utama dari tim PKM PI ini, yaitu Debei, seorang pembudidaya ikan hias koi asli Magelang.

Baca juga:  Perluas Pasar, CARfix Buka Outlet ke-32

“PKM ini dilatarbelakangi permasalahan mitra. Mitra kami mengeluhkan bahwa survival rate dari ikan hiasnya menurun saat pandemi. Penghasilannya pun menurun imbas daya jual yang menurun,” ungkap Ayu, salah satu anggota kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (11/8/2021).

Permasalahan lain juga berkaitan dengan biaya listrik. Karena semua sistem termasuk pompa dan aerator harus hidup 24 jam. Ditambah air yang digunakan adalah air PDAM. Maka dari segi pengeluaran, budidaya yang dilakukan oleh Debei sejak 2010 lalu menyita biaya cukup besar.

Hal itulah yang mendasari Ayu Putri Lestari dan tim menciptakan kolam pintar. Teknologi ini dirancang dengan konsep sistem resirkulasi yang dapat memonitoring parameter kualitas air melalui sensor suhu, sensor TDS (Total Dissolved Solid), dan sensor DO (Dissolved Oxygen). Juga dilengkapi aerator dan pemberian pakan otomatis (Automatic Feeder). Uniknya, semua alat terintegrasi dengan smartphone dan sumber energi dari panel surya.

Baca juga:  20 Tim Ramaikan Kompetisi Mobile Legend Sambil Ngabuburit

Dijelaskan, energi listrik yang dihasilkan dari panel surya dialirkan ke sensor dan aerator. Energi tersebut disimpan di baterai supaya sistem dapat bekerja meskipun kondisi malam atau hujan.

“Keunikan dari cara kerja alat ini adalah jika daya baterai kurang dari 50 persen, otomatis akan pindah dari PLTS ke PLN. Kemudian pada pakan otomatis, kami memasang sensor ketinggian guna memantau kondisi pakan. Jika habis, sensor akan mengirim notifikasi ke aplikasi,” bebernya.

Hasil ide yang dicetuskan oleh Ayu berasal dari eFishery. Kemudian dikembangkan menyesuaikan kondisi mitra. Hingga saat ini, alat telah dipasang di Magelang. Untuk lama pengerjaan adalah sekitar 1,5 bulan dan tiga hari pemasangan. “Dalam pengerjaan, kami menemukan kendala pada trial and error yang cukup lama. Pencarian alat juga terbilang susah, dengan kondisi PPKM banyak toko yang tutup,” katanya.

Baca juga:  Parkir Sembarangan di Jalan Pahlawan, Siap-siap Kendaraan Bakal Diderek

Ke depannya, Ayu dan tim akan mengurus hak paten atas rancangannya. Ia juga ingin adanya kerja sama dari pihak-pihak terkait seperti Dinas Perikanan setempat untuk melakukan pengembangan dan penyempurna risetnya tersebut. (bis/mg4/aro)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya