alexametrics

Terapi Rutin, Anak Mulai Bisa Berjalan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Hati Surami remuk, mendengar anak perempuannya, Faza Maulida divonis cerebral palsy atau alami lumpuh otak. Ia bercerita, Faza kejang saat berusia 14 bulan. Dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya kritis, tak sadarkan diri sampai 24 jam. Pikiran Surami kalut. Terpikir keselamatan anak, dan biaya berobat.

“Waktu itu, saya belum punya kartu Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS),” ujar warga Srumbung, Kabupaten Magelang itu.

Dengan berbagai cara, ia menutup tagihan biaya berobat. Semakin terasa berat, saat Faza harus diterapi. Minimal seminggu dua kali. Dia mendaftar menjadi peserta JKN-KIS mandiri. Memang biaya yang dikeluarkan untuk iuran, lebih ringan dibanding tagihan cek electroencephalography (EEG). Tapi Faza masih bolak-balik opname di rumah sakit berbeda. Sampai ke Jogjakarta. “Kami sempat putus asa,” tuturnya menahan air matanya menetes.

Baca juga:  Bea Cukai Semarang Optimistis Raih Predikat WBK

Dia pun bergabung Paguyuban Keluarga dan Anak Cerebral Palsy (PKDAC) Magelang. Oleh ketua paguyuban, keluarganya diusulkan menjadi peserta JKN Penerima Bantuan Iuran (PBI), dibiayai Pemkab Magelang. “Sekarang tinggal mikirin ongkos jalan. Karena iuran sudah dibantu pemerintah.”

Anaknya yang kini berusia 4 tahun menjalani terapi rutin. Harapan kesembuhan itu ada. “Dulu anak saya nggak bisa jalan, sekarang sudah bisa walau harus dibantu. Dia juga bisa bicara dikit-dikit. Ini sangat melegakan. Saya berterima kasih dengan pemerintah, dan peserta JKN-KIS lainnya. Karena iuran peserta yang lain, anak saya bisa berobat sampai sekarang,” ungkapnya. Terlebih, anaknya juga didiagnosis mikrosefalus, dan epilepsi. (put/bis/lis)

 

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya