alexametrics

Magelang Cantik, Cinta Organik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang semakin serius menggarap ketahanan pangan. Melalui penumbuhan, dan pengembangan kelompok wanita tani (KWT) di setiap kelurahan. Tujuannya memanfaatkan potensi pekarangan warga, untuk peningkatan produksi sayuran organik. Program ini dinamai Magelang Cantik, yang berarti Magelang Cinta Organik.

Kepala Disperpa Kota Magelang Eri Widyo Saptoko menyiapkan berbagai jurus untuk menjaga eksistensi sektor pertanian. Dia fokus menggenjot pemanfaatan pekarangan di perkotaan dengan sejumlah tanaman sayuran. Hal ini didasari kenyataan semakin sempitnya lahan pertanian yang berbentuk sawah, dan tegalan.

Saat ini luas lahan pertanian produktif tinggal 142,83 hektare sawah, dan 18,51 hektare tegalan. Sedangkan luas lahan pekarangan menurut data BPS tahun 2019 malah mencapai 1.234 hektare.

Baca juga:  Rayakan HUT Ke-70, SMC RS Telogorejo Gelar Khitanan Massal

“Artinya ada potensi yang lebih besar untuk mengoptimalkan lahan pekarangan, mengingat luasannya mencapai hampir delapan kali lebih luas dibandingkan sawah dan tegalan yang kita miliki,”ujarnya.

Realita itu membuka jalan pikiran baru. Kebijakan pembangunan kota yang semula  berbasis pembangunan infrastruktur, sekarang mengarah  pada pembangunan, dan pemberdayaan  masyarakat. Pada program Magelang Cantik, Disperpa telah membentuk KWT percontohan di dua lokasi. Yaitu KWT Sari Makmur (Kelurahan Kedungsari), dan KWT Kartini (Kelurahan Wates).“Dua KWT ini sudah kami kawal secara intensif sejak pertengahan bulan Maret,” imbuhnya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Disperpa Kota Magelang Among Wibowo menjelaskan, Magelang Cantik juga  menandai pengembangan pertanian perkotaan secara terpadu (integrated urban farming). Model penanam di lahan demplot KWT Kartini dilakukan secara tumpangsari dari cabai, kol bunga, dan sawi putih. Lahan yang dimanfaatkan seluas 150 meter.

Baca juga:  Jelang Pra Porprov Jateng, Fisik Atlet Kota Magelang Masih Kedodoran

Demikian pula di KWT Sari Makmur. Penanaman dilakukan secara tumpangsari dan monokultur dengan lebih banyak jenis tanaman di lahan seluas 150 meter persegi. Antara lain dengan cabai, tomat, sawi pakcoy, selada merah, kangkung, bayam dan sawi hijau/caisim.

“Selama masa produksi sayuran, kami melakukan pendampingan, dan pembinaan secara rutin dengan harapan hasil panen sayuran lebih meningkat,” tandasnya.

Sejumlah komoditas didorong untuk dikembangkan kedua KWT. Antara lain tanaman sayuran, tanaman biofarmaka, tanaman hias, ternak dan ikan. Inilah perbedaan model urban farming yang diterapkan Kota Magelang. “Implementasinya merupakan keterpaduan antara pertanian, pangan, peternakan dan perikanan. Semua subsektor dapat dipadukan, tapi sentralnya, tetap pada pertanian dan pangan,” imbuh Among.

Baca juga:  Playground Alun-Alun Magelang Ditutup

Terobosan lain, Disperpa berencana merombak jenis tanaman di Kebun Bibit Senopati (KBS). Hal ini untuk menindaklanjuti arahan Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Azis untuk mengubah komposisi jenis tanaman yang ada ke jenis-jenis baru yang lebih eksotik, dan langka. (prokompim/mgl)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya