alexametrics

Terapkan Kurikulum Islam dan Moderasi Beragama

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tidak tanggung-tanggung, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang meneguhkan dan menginternalisasi moderasi beragama kepada mahasiswa sejak dini. Yakni dengan memasukkannya ke dalam kurikulum perkuliahan pada starta pertama (S1).

“Kampus UIN Walisongo harus menjadi motor penggerak moderasi wasatiyah di tengah kehampaan masyarakat di era digital ini,” kata Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr H Imam Taufiq M.Ag kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karena itulah, UIN Walisongo mendirikan Rumah Moderasi Beragama (RMB) pada akhir Desember 2019 silam. Termasuk dalam penggodokan kurikulum perkuliahan. “Ini wujud konkret kami, yang tak hanya sebatas angan-angan. Tapi semangat ini kami realisasikan dan tersistematisasi dalam bentuk program. Bahkan, kami susun strukturnya, melibatkan orang-orang yang berkompeten dalam bidang ilmu agama maupun lainnya,” tegas rektor yang juga pengasuh Ponpes Besongo Semarang ini.

Wakil Rektor I Dr H M Mukhsin Jamil M.Ag menambahkan melalui RMB ini, UIN Walisongo melakukan kajian, studi, penerbitan, merumuskan kurikulum mengenai Islam dan moderasi beragama. “Mulai tahun 2020, sudah punya kurikulum baru, salah satu subjeknya adalah Islam dan moderasi beragama untuk semua mahasiswa,” tandasnya.

Baca juga:  Tim Pengabdian FMIPA Unnes Dampingi Guru selama Pandemi

Misi RMB ini, kata Prof Imam taufiq, berbeda dengan kampus-kampus lain. Salah satunya mengangkat turos, yakni buku-buku tradisi Islam klasik, Islam nusantara yang selama ini jarang dimunculkan. Contohnya, karya pendiri ormas terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) Mbah KH Hasyim Asyari. Kemudian, tulisan- tulisan Mbah Sholeh Darat atau yang dikenal gurunya Raden Ajeng (RA) Kartini. “Itu kan tokoh moderat asli dari Semarang, tapi jarang diekspos. Makanya, visinya kami adalah mengangkat khazanah Islam klasik menjadi sebuah tren moderat di Indonesia,” tandasnya.

Jajaran pimpinan Rektorat UIN Walisongo Semarang tahun 2021 siap bekerja keras. Tak hanya mewujudkan kampus riset yang smart and green, tapi juga kampus moderasi bertaraf internasional. (Istimewa)

Selain itu, RMB juga merespon kondisi aktual. Memformalisasikan ke dalam kurikulum bagi mahasiswa. Bisa dibilang, MRB ini gerak cepat (gercep). Saat ini sudah punya mata kuliah dengan nama Islam dan Moderasi Beragama serta mata kuliah Islam dan Budaya Jawa. Bahkan, mata kuliah ini sudah diajarkan kepada mahasiswa setahun ini, selama pembelajaran daring atau online.

Baca juga:  Gelar Diskon Hari Kemerdekaan, Pengunjung Bengkel Daihatsu Melonjak

“Islam dan Moderasi Beragama ini, menjadi mata kuliah wajib dengan dua SKS. Artinya kami mengenalkan sejak dini, karakter khazanah Islam wasatiyah yang rahmatan lilalamin seperti apa, sejarahnya seperti apa, kulturnya seperti apa, dan lokalitasnya seperti apa?” imbuh Prof Imam taufiq.

Tidak sendirian meneguhkan moderasi beragama. UIN Walisongo Semarang juga berkolaborasi dan menggandeng ulama, santri, dan umara. Bahkan, Minggu (4/4) kemarin, UIN Walisongo menggelar halaqah dengan menghadirkan para kiai, masyayikh, santri, gubernur, Pangdam, Polda Jateng, untuk merumuskan kurikulum anti radikalisme yang akan diterapkan sejak dini mulai sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi secara menyeluruh. Tak hanya untuk mahasiswa UIN Walisongo Semarang saja.

“Kurikulum ini, kami pastikan tidak disusun secara dadakan. Tapi melalui kajian yang mendalam, disusun oleh tim yang memiliki kapabilitas di bidangnya. Mendatangkan pakar. Bahkan masih dikaji lagi dengan penjaminan mutu, sampai bisa dipraktikkan,” urainya.

Kurikulum anti radikalisme untuk SD, SMP, dan SMA, kata Mukhsin Jamil, sudah mulai disusun kisi-kisinya dan akan diujicobakan pada tahun ajaran baru mendatang, Juli 2021. “Ini gerakan pembangunan dan penyelamatan generasi bangsa dari sikap-sikap intoleransi,” katanya.

Baca juga:  Sun Motor Salatiga Wajibkan Karyawan Vaksin

Tak hanya itu, melalui RMB, UIN Walisongo akan melakukan penyusunan indikator moderat bagi seseorang dan komunitas. Ini upaya melakukan definisi ulang tentang moderat dan kriteria detilnya itu seperti apa. Dikatakan keras itu seperti apa.

“Makanya harus disusun oleh tim yang mumpuni, dikaji dari perspektif keilmuan atau psikolog, maupun ilmu terorisme. Kemudian disusun dengan instrumen dalam perspektif riset. Saat sudah memasuki tahap untuk disimulasikan di beberapa tempat. Selanjutnya akan kami launching,” kata lulusan Fakultas Usuludin IAIN Semarang ini.

Karena itulah, dies natalis ke-51 ini, katanya, memperkuat program yang sudah berlangsung. Mendeklarasikan wajah UIN yang moderat, fleksiblel, inklusif atau terbuka, dengan pengajaran yang dinamis. “Dalam dies natalis ini, kami ingatkan kembali warga kampus, jangan lupa bahwa kita punya Walisongo. Maka kita harus berkhidmah dalam kondisi apapun, kita harus menjadi orang yang ramah,” tegasnya. (ida/bis)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya