alexametrics

Kesempatan PTM Jangan Sampai Munculkan Klaster

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Pemkab Batang resmi memberlakukan pembelajaran tatap muka sejak 9 Maret 2021. Ratusan sekolah mulai memberangkatkan siswanya usai satu tahun pembelajaran jarak jauh. Dua pekan berlangsung, masih dijumpai masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan.

Seperti siswa yang tidak mengenakan masker saat di jalan, pengantar yang tidak mengenakan masker, hingga pengawasan saat berangkat maupun pulang sekolah. “Terkadang murid-murid berangkat pakai masker, tetapi kadang pengantarnya tidak pakai masker. Semuanya harus berperan aktif. Komitmen bersama,” ujar Ketua DPRD Kabupaten Batang Maulana Yusup Rabu (24/3/2021).

Menurutnya, pengawasan pembelajaran tatap muka harus dilakukan oleh semua stakeholder. Bukan hanya dibebankan pada guru ataupun wali murid. Tetapi semuanya harus berperan aktif. Masyarakat harus saling menjaga. Mengingatkan jika ada siswa atau yang berhubungan dengan siswa tidak mengenakan masker. “Jangan sampai sudah dibuka ruang untuk tatap muka kembali, tetapi nanti hasil evaluasi secara berkala itu memunculkan klaster baru. Artinya akan merubah kebijakan itu,” imbuhnya.

Baca juga:  Pemuda Karangasem Utara Rakit Kapal Miniatur Bernilai Jutaan Rupiah

Sebelumnya, Bupati Batang Wihaji mengambil keputusan pembelajaran tatap muka demi mencegah hilangnya satu generasi. Karena sudah satu tahun lamanya pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Wihaji menegaskan, akan kembali memberlakukan PJJ jika muncul klaster dari dunia pendidikan. Artinya pembelajaran tatap muka dihentikan.

Mencegah kembali diberlakukannya PJJ, Yusup pun mengimbau masyarakat untuk sadar. Menyamakan persepsi bahwa pandemi masih berlangsung. “Covid masih ada, harus ada komitmen bersama untuk menjalankan protokol kesehatan. Baik itu guru, murid, orangtua siswa, maupun masyarakat,” tegasnya.

Tidak semua sekolah bisa menerapkan PJJ. Terutama di daerah selatan yang berada di pegunungan. Sinyal tidak tersedia, sementara masyarakatnya terbiasa di persawahan. Orang tua tidak sempat belajar dengan anaknya. Materi yang diberikan melalui grup daring, lebih sering baru terbaca keesokan harinya. Sehingga efektivitas pembelajaran tentu sangat kurang.

Baca juga:  Permintaan Tinggi, Piaggio Perkuat Pasar di Semarang

“Dibanding dengan pembelajaran daring, terkait dengan waktu siswa belajar. Kalau siswa belajar di sekolah memang ada yang mengawasi. Tapi kalau pembelajaran jarak jauh, orang tua kan punya kesibukannya masing-masing. Jadi di rumah tidak semua orang tua bisa mendampingi anak belajar,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Batang Arif Rohman juga sepakat dengan Yusup. Orang tua maupun masyarakat masih ada yang abai. Tidak mengenakan masker, maupun tidak menegur saat melihat siswa melepaskan maskernya. “Kami betul- betul ingin mengawal pendidikan di Kabupaten Batang dan memastikan pembelajaran tatap muka tetap berlangsung. Butuh dukungan dari semua pihak terutama masyarakat dan orang tua. Mari bersama-sama membuat pembelajaran tatap muka ini menjadi kegiatan yang aman dan lancar,” ucapnya. (yan/wan/ton)

Baca juga:  Pembangunan Gorong-Gorong dan Jembatan segera Diselesaikan

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya