alexametrics

Peluang Pengembangan Psikologi Islam

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Uraian ini sengaja diawali dengan sebuah kutipan dari Robert Smiter dan Alireza Khorsandi yang menyatakan ‘Although many psychologists have studied the relationships between religion and different aspects of psychology, few researchers have focused on religious ideas about personality.

Inti dari quote yang tertuang dalam artikel berjudul “The Implicit Personality Theory in Islam” dimuat dalam Journal of Psychology of Religion and Spirituality, 2009, Vol.1, No. 2 di atas, adalah masih sangat minimnya kajian yang berkenaan dengan ide-ide agama hubungannya dengan persoalan kepribadian. Agama tampak belum memberikan uraian memadai tentang dinamika kepribadian dan psikis manusia secara lebih mapan, bukan berarti agama tidak memiliki penjelasan tentang hal itu, akan tetapi karena minimnya perhatian untuk menggali pesan-pesan agama berkenaan dengan dinamika kejiwaan manusia secara lebih tersistematisir berdasar kaidah-kaidah ilmiah.

Baca juga:  Tabrak Konsep, Gabungkan Sport Bike dan Tradisional

Islam sebagai sebuah world view bagi para pemeluknya, sudah barang tentu tidak luput untuk membahas dan memberikan panduan kepada manusia mengenai bagaimana manusia memahami, memenej, dan mengembangkan aspek jiwanya. Termasuk bagaimana memberikan treatment jika jiwa tersebut sedang mengalami masalah. Selama ini, urusan yang berkenaan dengan dinamika psikis manusia lebih didominasi oleh psikologi umum yang basis epistemologisnya dibangun bukan dari ajaran wahyu.

Meskipun demikian, bukan berarti psikologi (baca: umum) tidak memiliki kekurangan atau kelemahan. Misalnya, psikologi tidak membicarakan tentang aspek ruh di dalam manusia. Psikologi melihat manusia sebagai entitas kejiwaan yang tidak berhubungan dengan ruh. Padahal sebagai pemeluk agama (Islam) ruh adalah diyakini sebagai penggerak dinamika kehidupan ini. Dari sinilah tampak pentingnya kehadiran agama (Islam) dalam memberikan sumbangsih keilmuan dalam menjelaskan persoalan dinamika psikis manusia. Dalam konteks ini kajian Psikologi Islam menemukan urgensinya.

Baca juga:  Perpustakaan Multi Fungsi yang Ramah Lingkungan

Pengembangan keilmuan Psikologi Islam yang mengkolaborasikan antara pemahaman yang berdasar wahyu dengan konsep-konsep psikologi (umum) mengenai seluk-beluk dinamika kejiwaan manusia akan melengkapi kerja-kerja psikologi (umum) yang telah dikembangkan selama ini. Tak dipungkiri dalam konteks yang lebih khusus psikologi (klinis) lebih menitik beratkan pada usaha treatment terhadap manusia yang memiliki gangguan kejiwaan, namun kurang berperan dalam mencegah atau preventif agar manusia tidak mengalami gangguan kejiwaan. Di sinilah – misalnya- salah satu peran penting Psikologi Islam dalam menawarkan dan mengembangkan pola-pola pencegahan bagi terjadinya gangguan kejiwaan. Lebih dari itu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan spiritual (Islam) sebagai sebuah alternatif treatment untuk mengatasi gangguan kejiwaan yang dialami oleh manusia, misalnya karena kecanduan narkoba, telah terbukti memiliki peran signifkan.

Baca juga:  Manulife Peduli Kesehatan Nasabah

Apa yang ingin ditunjukkan dari paparan di atas adalah bahwa peluang untuk mengembangkan Psikologi Islam secara akademik di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sangat terbuka lebar. Pendekatan yang digunakan dalam pengembangannya tentu kolaboratif, integratif dan interkonektif dengan berbagai disiplin keilmuan. Dengan pendekatan semacam itu Psikologi Islam akan muncul sebagai sebuah displin keilmuan yang dengan kekhasannya sendiri, dan akan memberikan sumbahsih mengisi celah-celah yang luput dari fokus kajian akademik disiplin ilmu lainnya. (*)

Wakil Dekan bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya