alexametrics

Gonzales Terharu, Idul Adha Tanpa Orang Tua

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Gonzales, 12, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Askhabul Kahfi tampak berkaca-kaca usai menjalani ibadah salat Idul Adha, di halaman kampus 4 tempatnya menimba ilmu Jumat (31/7/2020). Ini adalah pertama kalinya dia merayakan Idul Adha jauh dari keluarganya di Palembang, Sumatera Selatan.

“Sedih gak bisa kumpul bersama bapak, ibu, dan kakak. Tapi gak papa banyak teman di sini. Semuanya juga sama kayak saya, tidak bisa salat Ied bersama keluarga,” kata remaja yang namanya mirip mantan striker Timnas Indonesia itu.

Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH Nadlirin SPd M.Pd mengatakan Idul Adha tahun ini, ponpesnya mewajibkan seluruh santrinya memakai baju warna putih saat salat Idul Adha.

Baca juga:  Kebakaran Tempat Relokasi Dikaitkan dengan Penataan Pasar Johar Baru, Ini Kata Wali Kota Hendi

“Makna dari baju warna putih ini sebagai tanda didikan kepada santri agar ke depan umat Islam kompak. Karena kekompakan umat Islam baik dan membuat Islam semakin hebat,” tutur KH Nadlirin.

Makna kurban bagi santrinya, kata KH Nadlirin, mengingatkan untuk tidak menjadi orang yang kikir. “Ini mengingatkan santri kami, kelak jika sukses untuk selalu berderma. Bukti sebagai rasa syukur atas kelebihan nikmat harta yang diperoleh. Salah satunya dalam bentuk berkurban,” tandasnya.

Pelaksanaan peringatan Hari Raya Idul Adha di lingkungan Ponpes Askhabul Kahfi sendiri menurut Lurah Pondok Muhamad Riksa Sahputro, berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi Covid-19. Idul Adha tahun ini, pihaknya menyembelih kurban empat ekor sapi dan sembilan ekor kambing.

Baca juga:  Bantu Sembako Warga Kurang Mampu

“Tradisi takbir keliling kampung, pesta obor dan kembang api yang biasa kami lakukan untuk menghibur santri terpaksa kami tiadakan. Tapi untuk menghibur santri, kami ganti sepak bola api,” kata pria yang akrab dipanggil Riksa ini. (sls/ida/bas)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya