alexametrics

Pedagang Pasar Bintoro Keberatan dengan Pembatasan Jam Operasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Sejumlah perwakilan pedagang Pasar Bintoro kemarin mendatangi gedung DPRD Demak. Mereka mengadukan masalah perpanjangan jam operasional pasar yang dinilai membuat pedagang tidak bisa maksimal berjualan.

Pedagang ditemui langsung Ketua DPRD Demak, H Fahrudin Bisri Slamet didampingi Kepala Dinas Kesehatan H Guvrin Heru Putranto, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Iskandar Zulkarnain, dan Kabid Pengelolaan Pasar Sunoto.  Dalam audiensi tersebut, Fahrudin Bisri Slamet menyampaikan bahwa pengaturan jam operasional dilakukan lantaran untuk menyesuaikan protokol penanganan Covid-19.

“Terkait aturan covid ini memang harus ditaati semua. Ini demi keselamatan bersama masyarakat Demak,” ujar Slamet.

Meski demikian, dalam persoalan tersebut, DPRD hanya menjembatani keinginan pedagang dengan kebijakan Pemkab Demak yang telah memberlakukan pembatasan jam operasional. Yaitu, dari pukul 06.00 hingga pukul 12.00.

Dalam audiensi itu, pedagang minta agar tidak dilakukan perpanjangan jam operasional. Kemudian, pintu masuk bagian tengah Pasar Bintoro tetap dibuka seperti sediakala. Selain itu, pedagang juga minta agar tempat jualan di jalan depan Pasar Bintoro ditiadakan. Sebab, pasar krempyeng untuk pedagang sayuran yang buka mulai pukul 24.00 hingga pukul 04.00 tersebut dinilai telah merugikan  pedagang asli Pasar Bintoro yang berada di lantai atas.

Baca juga:  Ke Pasar Tak Pakai Masker, Siap-Siap Dihukum Push Up

Perwakilan pedagang Pasar Bintoro Susi Alifah mengatakan, kondisi Pasar Bintoro yang dibatasi jam operasionalnya berdampak bagi pedagang. “Kondisi kami sangat berat. Pendapatan turun drastis. Ini seperti di lockdown. Sebelumnya pembatasan jam operasional hanya sampai 9 Juli. Sekarang diperpanjang 20 hari lagi. Kami keberatan,” ujar Susi.

Menurutnya, tidak di-lockdown saja, suasana pasar dinilai sepi pembeli. “Sebelum Ramadan sepi sekali. Seperti tidak ada orang yang berjalan di pasar. Justru yang dibuka pasar krempyeng yang rawan penularan covid. Sejauh ini, di dalam Pasar Bintoro belum ada yang kena covid. Karena itu, tidak perlu ada perpanjangan jam operasional,” katanya.

Dia juga menyampaikan bahwa pasar krempyeng di jalan raya depan Pasar Bintoro bukan dipakai jualan pedagang asli Demak, namun justru digunakan pedagang luar Demak.

Baca juga:  Djarum Foundation Bantu APD untuk Tenaga Medis di Kudus

“Mereka juga tidak pakai kelengkapan masker dan protokol kesehatan lainnya. Mohon pasar krempyeng ditutup,” harap Susi.

Dalam audiensi itu juga terungkap bahwa pedagang yang biasanya dapat Rp 250 ribu sehari, sekarang hanya dapat Rp 15 ribu sehari.

Menanggapi aspirasi pedagang itu, Kepala Dinas Perdagangan Iskandar Zulkarnai mengatakan, pembatasan jam operasional dilakukan sesuai Surat Edaran (SE) Bupati Nomor 45 Tahun 2020 tentang Percepatan Penanganan Covid-19.

“Dengan adanya SE ini, pasar tradisional wajib melakukan pembatasan kegiatan masyarakat yang berlaku sampai 31 Juli dengan pembatasan jam operasional,” katanya.

Menurutnya, pasar krempyeng pagi sebelumnya untuk mengakomodasi pedagang yang tidak punya kios dan los. Tapi, dalam perkembangannya malah dipakai pedagang dari luar.

Kepala Dinas Kesehatan Guvrin Heru Putranto menambahkan, covid merupakan fakta. Karena itu, tugas pemerintah daerah termasuk DPRD adalah menjaga dan melindungi masyarakat agar tidak terpapar virus korona.

“Artinya, kita harus jalankan protokol kesehatan secara ketat dari jam ke jam. Sebab, virus korona tidak dibatasi oleh waktu dan ruang atau tempat.

Baca juga:  Pilih Jual Online Sambil Kuliah Daring

“Dalam rapid tes di Pasar Bintoro non-reaktif. Tapi, itu tidak menjamin. Sebab, sekarang banyak orang tanpa gejala (OTG) karena pernah kontak dengan yang positif. Kita tidak tahu karena ini femonema gunung es.” ujarnya.

Saat ini, kata Guvrin, Demak masih zona merah. Sehari minimal ada 7 kematian pasien yang harus dikuburkan. Sekarang data menyebut sudah 103 pasien mati positif covid. Sedangkan, yang dikubur dengan gejala covid sudah 204 orang. Kasus penularan masih tinggi. Biasanya mencapai 40 orang kini turun menjadi 27 orang. Tapi, itu masih tinggi.

Nah, pasar sangat rentan terjadi penularan karena mudah untuk kontak da nada sarana (media) penularan. Bisa lewat transaksi jual beli dan sebagainya. Ini bukan masalah koronanya, tapi kebiasaan masyarakat. Karenanya harus taati protokol kesehatan termasuk di Pasar Bintoro,” ujar Guvrin.  (hib/zal/bas)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya