alexametrics

Kecamatan Banyumanik Jaga Tradisi Leluhur Tetap Eksis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Kawasan Kecamatan Banyumanik semakin berkembang seiring Kampus Undip Tembalang yang diserbu mahasiswa dari penjuru negeri. Laju pertumbuhan ekonomi bermula saat Kampus Undip Pleburan “Bedhol Deso” ke Tembalang tepatnya 2010 lalu.

Warga di sana mayoritas mencari rupiah dari jasa kos, kontrak, dan menawarkan aneka kuliner. Kini, ratusan kafe, hotel, dan apartemen pun dibangun lantaran kawasan Banyumanik dan Tembalang perputaran ekonominya tak pernah surut.

Pandemi covid-19 yang menghantam, seketika mengubah Banyumanik menjadi sunyi. Tak heran, ratusan warga pemilik usaha kos dan kontrakan ditinggalkan penghuninya yang mayoritas mahasiswa. Begitu pun dengan bisnis kuliner, rata-rata pemilik kedai hanya melayani take away. Namun demikian, setelah pemberlakuan PPKM level 1 di Kota Semarang, geliat ekonomi di kawasan tersebut pulih.

Baca juga:  Setelah Mendekam 15 Tahun Penjara, WNA Asal Malaysia Menunggu Deportasi

Camat Banyumanik Maryono mengatakan, pelaku ekonomi sangat bersyukur karena ketatnya aturan PPKM yang kini semakin di perlonggar membangkitkan ekonomi yang terpuruk.  “Dari level 4 kemudian berangsur turun ke level 1 ini sangat membantu sekali pelaku ekonomi bersyukur bisa berjualan. Kondisi ini akan terus kita jaga dengan menggelar operasi penegakan prokes rutin,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Megahnya pertumbuhan ekonomi di Banyumanik, kata dia, ternyata memiliki warisan budaya berupa tradisi sadranan yang tetap dilestarikan. Tradisi Sadranan dilakukan untuk menghargai leluhur serta sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.

“Setiap kelurahan menjelang bulan Ramadan menyelenggarakan tradisi sadranan, tetapi potensi masing-masing kelurahan berbeda. Ciri khas tersebut yang masih terpelihara,” tambahnya

Baca juga:  Di Kelurahan Tambakrejo, Cairkan BST Tak Harus Vaksin

Menurutnya, tradisi ini menunjukan harmonisnya hubungan antar warga, nuansa keakraban sangat terasa saat tradisi tersebut berlangsung. Yang paling kental di Kelurahan Pudakpayung dan Gedawang lantaran kesadaran masyarakat untuk nguri-uri budaya.  “Bahkan ingkung yang menjadi sesaji mencapai 500, lambang dari seluruh RT yang ada di Pudakpayung,” jelasnya. (cr3/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya