alexametrics

Warga Kelurahan Mangunharjo Manfaatkan Mangrove sebagai Pewarna Alami Batik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangKelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu terletak di pesisir laut Jawa. Tak heran, dampak abrasi yang menerjang mendorong pemerintah kelurahan setempat beserta instansi terkait melakukan konservasi mangrove sebagai sabuk pelindung pesisir. Selain terdapat ecowisata mangrove, kelurahan tersebut menawarkan kreativitas warga dalam memanfaatkan limbah mangrove di pinggir pantai.

Lurah Mangunharjo Siti Komariyah melihat garis pantai yang dipenuhi berjejernya mangrove sebagai lahan ekonomi kreatif. Karena itu, pihaknya berkolaborasi bersama perguruan tinggi untuk menggali potensi tanaman bakau. “Secara geografis di pinggir pantai, selain itu juga kita menggerakkan penanaman mangrove. Menggandeng sejumlah pihak untuk menciptakan inovasi pengolahan mangrove berupa olahan hingga paling fenomenal batik mangrove,” katanya.

Baca juga:  Gagalkan Penyelundupan 1.542 Roll Kain Polyester dari China

Batik Mangrove menjadi gebrakan warga untuk memiliki ikon yang dikenal luas. Lewat motif batik pesisiran berunsur flora dan fauna sekitar, mengantarkan kelurahan tersebut sebagai leading sector ekonomi kreatif. Setiap warna yang dilukiskan lewat bahan dasar alami biji mangrove  memiliki arti lingkungan hayati. “Lingkungan pesisir dengan keragaman flora dan fauna menjadi motif untuk mengenalkan potensi kelurahan lewat sentuhan warna,” imbuhnya

Tidak hanya itu, di RW 5 yang mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan mudah dijumpai pengasapan ikan. Berbagai jenis ikan asap dari kampung tersebut sudah melayani permintaan di Kota Semarang bahkan menembus pasar ibukota. “Untuk wilayah tersebut, menjadi kampung tematik ikan asap. Di situ mata pencaharian utama warganya nelayan.  Kemudian, biasa dikenal dengan istilah kampung mangut,” tuturnya

Baca juga:  Gereja Dibuka, Batasi Kursi Jemaat

Mufidah, perajin batik mangrove, memanfaatkan aneka jenis mangrove di sekitar rumahnya sebagai bentuk pelestarian lingkungan lewat sentuhan tangan. Ia pun menyajikan olahan berbahan dasar biji mangrove untuk diproses menjadi tepung. Lantas, berbagai variasi kuliner seperti keripik bahkan steak siap menggoyang lidah melalui nuansa berbeda.

“Jenis mangrove di sekitar sini banyak macamnya, seperti avecenia, burbuera, rhizopora. Yang digunakan untuk pewarna alami rhizopora, sedangkan jenis burbuera kemudian dijadikan tepung untuk menjadi jajanan,” ungkapnya

Kepulan asap dan aroma menyengat mewarnai wilayah RW 5, Tuminah salah seorang pengusaha ikan asap mengurangi produksinya selama pandemi Covid-19. Namun demikian, dalam sehari ia masih bisa menghasilkan 50 kilogram aneka jenis ikan. “Selama pandemi mengurangi jumlah produksi, beruntung masih tetap berjalan,” ucapnya. (cr3/ton)

Baca juga:  Kelurahan Meteseh Ciptakan Pelayanan yang Nyaman

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya