alexametrics

Warga Kelurahan Pesantren Olah Ketela jadi Kuliner Modern

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kelurahan Pesantren, Kecamatan Mijen letaknya diapit kawasan BSB Semarang. Hanya memiliki dua RW, tersohor lantaran sejak tahun 1995 mayoritas warga menanam ketela. Namun demikian, kelurahan ini ikut menjadi saksi pesatnya perkembangan BSB.

Hadirnya modernisasi tak membuat warga di sini meninggalkan olahan ketela yang sudah turun temurun. Semula, olahan berbahan dasar ketela identik sebagai makanan kuno. Kini, warga beramai-ramai untuk mengemas ketela menjadi kuliner modern.

Lurah Pesantren Sunarto memberdayakan warga untuk mendongkrak popularitas ketela sebagai kuliner kekinian. “Pernah menjadi kampung tematik dengan olahan ketela. Meski hanya beberapa orang warga yang membudidayakan ketela. Tetapi sekarang, pihak kelurahan beberapa waktu lalu mengundang narasumber untuk mengembangkan inovasi dari olahan ketela,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain itu, bazar makanan selama Ramadan turut menumbuhkan ekonomi warga. Dalam kurun dua tahun belakangan, bulan suci menjadi ajang berburu dan menyajikan takjil menjelang waktu berbuka puasa. “Pemerintah kelurahan menggerakkan warga, penghasilan diperoleh juga pengalaman berharga menjadi bekal warga di kemudian hari,” imbuhnya

Baca juga:  Kelurahan Pakintelan Sinergikan Pemerintah dan Warga

Penanganan kasus covid-19, Kelurahan Pesantren menjadi yang terbaik di Kecamatan Mijen. Pasalnya, pihak kelurahan bersama polsek, koramil dan kecamatan rutin menggelar operasi yustisi.

Tak tanggung-tanggung, tindakan tegas berupa hukuman fisik dikenakan bagi mereka yang kedapatan tidak menggunakan masker. “Semenjak PPKM apel terpusat dilanjutkan operasi tepat sasaran dilakukan guna menekan penyebaran covid-19 di tingkat kelurahan. Ini dilakukan setiap malam,” tuturnya

Program vaksinasi yang menyasar 80 persen dari populasi warga memicu herd immunity kelurahan tersebut menduduki peringkat pertama untuk kecamatan Mijen. Kesadaran masyarakat dalam menekan laju penyebaran covid-19 mendorong mereka untuk memadati gerai vaksin yang disediakan.

Sementara, puskesmas melakukan jemput bola bagi warga yang terkendala akses supaya tetap tercover vaksinasi. “Di bandingkan kelurahan lain, kesadaran warga untuk vaksin sangat tinggi. Bahkan, masih banyak kelurahan di Mijen yang warganya takut untuk vaksin,” jelasnya

Baca juga:  Posko di Kelurahan Bongsari Tetap Aktif Meski Covid-19 Mulai Turun

Selama dua tahun menjabat, ia mengatakan, berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan pun telah tuntas. “Penanganan masalah kemasyarakatan melalui PKK, bidang Kesejahteraan Sosial ikut terlibat semua, terlebih situasi pandemi,” ungkapnya

Menurutnya, seiring berjalannya waktu kelurahan ini bisa menjadi landmark di Kota Semarang lantaran terklaster dengan wilayah BSB. Tidak hanya itu, budaya hidup sehat di kalangan masyarakat menjadikan kelurahan ini menyabet juara harapan 1 Lingkungan Bersih Sehat (LBS).

“Penanaman budaya hidup sehat di masyarakat, mendorong warga untuk menjaga pola hidup bersih. Apalagi musim penghujan rawan terjadi penyakit yang disebabkan faktor lingkungan,” jelasnya. (cr3/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya