alexametrics

Aneka Potensi Wisata Ada di Kelurahan Nongkosawit

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sejak 2012, Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati telah menjadi salah satu desa wisata di Kota Semarang. Banyak potensi di wilayah ini. Salah satunya Omah Pang di RW 1.

Pang, dalam bahasa Jawa, artinya ranting pohon. Sedangkan omah, berarti rumah. Omah Pang adalah rumah yang terbuat dari ranting-ranting pohon.

Lurah Nongkosawit Al Choiri menjelaskan, konsep Omah Pang sebagai wahana wisata edukatif.  Pengelola juga menyediakan berbagai mainan tradisional. Semisal, egrang, dakon, blarak semplak, gledekan, ulo-ulo cabe, dan lainnya. “Souvenirnya itu gelang, kalung jenitri,” katanya. Pelancong yang ingin menikmati makan siang, bisa menikmati nasi tedun. Zaman dulu, konon nasi tedun merupakan nasi yang dikirim untuk keluarga yang sedang bekerja di sawah.

Kemudian di RW 2, terdapat Curug Mahtukung. Namun, akses ke sana cukup ekstrem. “Sungai ada tebingnya setinggi 10 meteran lah. Kemarin sudah kita fasilitasi dengan membuat jalan dan diberi cor-coran,” katanya. Di RW 2 juga terdapat kelompok ternak sapi.

Kemudian di RW 3 terdapat kebun mrica dan berbagai macam kuliner yang dikelola oleh para pelaku UMKM. Di RW 4, terdapat Omah Joglo dan tradisi nubruk iwak. Nubruk iwak dilakukan di sawah atau kolam yang diberi ikan kemudian dilombakan untuk menangkap ikan tersebut. “Yang bikin asyik itu kalau keliru menangkap kaki cewek cowok,” ungkapnya.

Kemudian potensi wilayah di RW 5 adalah kuliner. Karena di RW 5 terdapat Kampung Tematik Olahan Singkong (Osin). Di sana banyak ibu-ibu yang mengolah singkong jadi tape dan jajan pasar. “Mereka mengembangkan olahan singkong lain, seperti bolu dari singkong, brownis dari singkong, dan pie,” kata Al Choiri.

Terkait dengan pemulihan ekonomi, pihak kelurahan memberdayakan UMKM melalui Gerai Kopi Mi. Ia berharap, perwakilan Gerai Kopi Mi dapat diikutkan musenbang. Sehingga kelompok UMKM dapat memberikan usulan melalui Gerai Kopi Mi seperti usulan pelatihan packing, pengolahan, pemasaran. “Karena biasanya yang kita undang hanya ketua RT, RW, Karang Taruna dan kelompok-kelompok pos PAUD, pokdarwis. Sehingga ekonomi dapat berkembang,” karena.

Diakui, pemasaran olahan singkong cukup sulit, apalagi hanya tahan 2-3 hari. Pihaknya memberikan dukungan seperti menyediakan alat transportasi ketika pelaku UMKM mengikuti pameran atau bazar di kecamatan “Sehingga ke depannya dapat dipasarkan secara efektif,” jelasnya. (fgr/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya