alexametrics

Kelurahan Karangtempel Jajakan UMKM Lewat Gerai Virtual

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pemerintah Kelurahan Karangtempel, Semarang Timur menangani covid-19 dengan berbagai cara. Apabila warga yang terpapar covid-19, diharuskan untuk mengisolasi mandiri di rumah. Sedangkan keluarga terdekat dari pasien terpapar covid-19 akan diungsikan.

Lurah Karang Tempel, Suharyati menjelaskan penduduk Karangtempel rata-rata mempunyai pendapatan menengah ke atas. Banyak yang menginvestasikan rumahnya dipakai untuk kos-kosan. Karena lokasi Karangtempel sangat dekat dengan kampus UPGRIS, SMP YSKI, serta sekolah lainnya. “Jadi potensi yang dimiliki warga itu kos-kosan. Ada juga KWT,” katanya.

Kelompok Wanita Tani (KWT) yang diketuai oleh Warsini atau akrab disapa Bu Tejo juga berkembang. UMKM teh daun tin menjadi cikal bakal Kampung Tematik Teh Daun Tin. Bu Tejo berhasil memproduksi teh daun tin dan menjualnya seharga Rp 15 ribu untuk ukuran 30 gram. “Caranya diambil lima helai dari ujung tangkai, kemudian dijemur seharian,” jelasnya.

Baca juga:  Pengundian Selesai, Pasar Johar Tengah, Utara dan Kanjengan Sudah Bisa Ditempati

Bhabinkamtibmas Karang Tempel Aiptu Eko Sulistiyanto menambahkan kultur dari warga Karangtempel kebanyakan apatis dan kurang akrab satu sama lain. Ketika ada pendataan warga yang terpapar covid-19 dari puskesmas, mereka tidak peduli, bahkan cenderung mengabaikan.

Ia bersama dengan lurah dan babinsa langsung turun tangan dengan menghubungi orang terdekatnya terlebih dahulu. “Kalau memang belum kenal ya memang begitu, sehingga kami yang harus mencari orang terdekatnya terlebih dahulu,” katanya.

Suharyati mengakui dalam penangan covid-19 pun begitu. Sehingga ia bersama bhabinkamtibmas dan babinsa harus berkomunikasi dengan yang bersangkutan secara terus-menerus. “Bukan melalui Grup WA, tapi kami japri satu-persatu. Kan menyangkut privasi,” katanya.

Kelurahan Karangempel mengupayakan pemulihan ekonomi dengan Bazar Virtual. Warga dibagikan kupon yang berisi produk-produk maupun jasa dari tiap-tiap RW kemudian produk tersebut didrop melalui kelurahan dan transaksinya diantar ke rumah-rumah supaya tidak menimbulkan kerumunan. “Jadi, semuanya wajib membeli dari RW yang berbeda. Boleh di satu RW, tapi harus satu saja,” jelasnya. (fgr/ton)

Baca juga:  Gampang-Gampang Susah Abadikan Bayi dalam Bingkai Foto

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya