alexametrics

Kembangkan Semarcakep hingga Bentuk Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kecamatan Semarang Barat, baru saja meraih penghargaan sebagai instansi pertama yang mendirikan sekolah nonformal Semarcakep.

Sekolah ini didirikan untuk anak berkebutuhan khusus, seperti difabel. Bisa jadi, inilah kecamatan satu-satunya yang mempunyai sekolah difabel di Jawa Tengah. Inovasi lain pun dikembangkan menuju sekolah ramah difabel. Terobosan maupun inovasi yang dilakukan Kecamatan Semarang Barat, tentu tak lepas dari peran sang leader, Heroe Soekandar selaku Camat Semarang Barat.

“Ya, kami bangga, karena Kecamatan Barat mendapatkan penghargaan sebagai instansi pertama yang mendirikan sekolah difabel. Mungkin ini menjadi satu-satunya kecamatan yang mempunyai sekolah difabel se-Jawa Tengah,” kata Heroe—sapaan intimnya—kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Heroe menyampaikan, Semarcakep berdiri sejak 2019. Atau, satu tahun sebelum Heroe menjabat sebagai Kepala Kecamatan Semarang Barat. Pemkot juga mendukung program tersebut.

Baca juga:  Kelurahan Tlogosari Kulon Terus Tingkatkan Usaha Menuju Herd Immunity

“Awalnya, masih swadaya. Tapi kemudian fasilitas terus berkembang. Ada kursi roda, parkir khusus, dan jalan khusus,” kata Camat Heroe. Kali pertama, Sekolah Semarcakep hanya memiliki sembilan anak didik. Setelah gencar disosialisasikan di medsos, anak didik semakin bertambah. Saat ini tercatat ada 93 anak. Tak hanya dari wilayah Semarang. Tapi luar wilayah Kota Atlas. Seperti Kudus, Kendal, bahkan Grobogan.

Untuk mengapresiasi pembelajaran mereka, Sekolah Semarcakep memiliki raport yang diberikan per semester. Tujuannya, agar anak didik tidak merasa berbeda dengan sekolah formal. Pihak kecamatan juga mengupayakan agar anak didik mampu mengikuti anak normal lainnya. Hasilnya, selama tiga tahun terakhir ini, ada lima anak yang melanjutkan ke sekolah umum. Setiap tahun, Semarcakep mewisuda siswa yang tamat belajar.

Baca juga:  Kelurahan Tinjomoyo Gandeng Perbankan, Kembangkan Ekonomi Warga

Kata Heroe, Sekolah Semarcakep tidak seperti sekolah formal. “Di sini, tidak ada tingkatan tertentu. Juga tidak ada batasan waktu untuk sekolah.” Sekolah Semarcakep kini memiliki dua pengajar. Meski begitu, kadang pihak kecamatan menghadirkan warga yang memiliki keahlian mengajar. “Kami pernah menghadirkan seorang imigran asal Afghanistan yang pandai melukis dengan kaki untuk mengajari anak didik kami yang tidak memiliki tangan,” kata Heroe. Selain pembelajaran, anak didik juga kerap diajak jalan-jalan.

Terobosan lain Kecamatan Semarang Barat adalah membentuk tim sukarelawan untuk pemulasaran jenazah. Juga memberikan edukasi dan sosialisasi bagi masyarakat agar tidak terlalu khawatir mengurus jenazah covid-19. “Ada 25 orang yang siap secara sukarela mengurus jenazah covid. Mulai memandikan hingga memakamkan. Pihaknya juga menyediakan dua mobil ambulans yang siaga di kantor kecamatan. Ambulan digunakan untuk membawa jenazah covid. Juga bagi masyarakat yang membutuhkan oksigen.

Baca juga:  Gerakkan Warga Kelurahan Mlatiharjo untuk Menanam Jahe Merah

Terkait inovasi pelayanan di Semarang Barat, Heroe menyampaikan, pihaknya telah membuat aplikasi bernama Si Kembar. Yakni, sebagai sistem informasi bagi masyarakat mengenai kartu kependudukan yang sudah jadi. Aplikasi ini lantas dikembangkan oleh Pemkot menjadi Si D’nOK (Sistem Informasi Dokumen Online Kependudukan). Tujuannya, mempermudah akses pelayanan administrasi kependudukan secara digital. (mg7/mg8/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya