alexametrics

Prinsipnya, Permudah Urusan Orang Lain

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi lawyer bagi Much Chlizin merupakan pekerjaan penuh tantangan. Sebab, masih banyak orang yang sangat butuh pembela demi menegakan hak asasi manusia. Hal ini tak terlepas dari pengamalan amar makruf nahi mungkar.

“Tentu  untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar,” katanya.  Perjalanan menjadi seorang advokat, ia awali saat  berkarir di Biro Tabloid Hukum & Kriminal terbitan Mabes Polri, Jawa Tengah dan DIY.

Kala itu, Much Chlizin ditunjuk sebagai kepala perwakilan dari pimpinan redaksi, Brigjen Pol Anton Tabah. Berawal dunia pers itulah, ia di kenal banyak orang. Utamanya, di kalangan aparat penegak hukum maupun birokrat.

Salah satu rekan kerjanya, Heri Sulistyono, yang menjabat sebagai kepala divisi hukum tabloid, merupakan  pengacara. Darinya, Much Chlizin banyak belajar tentang dunia advokat. Ia lantas mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) pada 2007. Setelah itu, magang di kantor advokat Nicolas Redy, dan lanjut magang di kantor DPD KAI Jateng. Kini, ia mendirikan kantor advokat dan konsultan hukum sendiri. Namanya: Much Chlizin, S.H, MH dan Rekan.

Baca juga:  Beri Pendampingan Kasus Fidusia

Bagi pria kelahiran Ungaran, 20 Juni 1971 ini, semua kasus yang ia tangani menarik. Tergantung bagaimana seorang pengacara membedah kasus tersebut. Terkadang, pengacara harus beda pendapat dengan aparat penegak hukum yang lain, seperti polisi, jaksa, maupun hakim. Perbedaan argumen perihal pandangan hukum menjadi hal biasa. Sebab, hukum itu multitafsir.

“Jadi, menurut saya dalam setiap perkara pasti ada yang menarik, karena di situ pasti ada kelemahan-kelemahan yang kita temukan. Sehingga dalam menyikapi kasus, menurut saya, ya biasa-biasa saja. Karena sebagai orang Jawa, saya sudah diajarkan ojo gumunan dan ojo kagetan,” urainya.

Penanganan kasus yang hingga saat ini masih membekas di hatinya adalah saat ia membela penjual mie ayam yang terjerat utang renterir. Utang Rp 5 juta, menjadi berlipat, senilai Rp 10 juta. Bahkan, penagihannya dilakukan dengan cara kekerasan.

Baca juga:  Mengejar Kebenaran di Manapun Berada

Ia tergerak membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebab, kliennya butuh keadilan dan dalam kondisi kurang mampu. Berkat kegigihannya membela klien dan memperjuangkan keadilan, Much Chlizin berhasil mengusut tuntas kasus tersebut, hingga kliennya mendapatkan ganti rugi, serta utangnya lunas. “Penyelesaiannya pakai restorative of justice (RJ), jadi damai. Saya lebih suka cara itu, karena hukum bukan satu-satunya cara untuk memidanakan seseorang. Akan lebih indah bila ada perdamaian.”

Dari perkara ini, ia ingin menyadarkan masyarakat awam untuk tidak sembarangan bermain-main dengan hukum. Menurutnya, jika masyarakat paham hukum, mereka jadi takut. Jadi tidak asal dalam menjalani kehidupan, dan senantiasa berhati-hati.

Terkait penegakan hukum saat ini, menurut Much Chlizin, tidak banyak mengalami perubahan. Sebagai penegak hukum yang tidak digaji oleh negara, ia tegak lurus menjalankan tanggungjawab dalam melayani klien semaksimal mungkin. Sehingga mereka mendapatkan kepuasan.

Baca juga:  Mengikuti Jejak Sang Idola

“Dengan kepuasan tersebut, mereka para klien pasti mendoakan kita. Yang lebih mujarab lagi kalau klien kita itu orang yang teraniaya, doanya pasti dikabulkan Allah,” paparnya.

Sebagai pengacara, ia patut memberikan contoh seperti halnya dalam menaati peraturan. Sesuai prinsip hidupnya, serva ordinem et ordo serva bite ordinem et ordo. Artinya: layanilah peraturan maka peraturan akan melayanimu. Dengan mengikuti aturan-aturan yang ada, baik agama maupun hukum, maka hidup akan senantiasa nyaman dan tenang.

Much Chlizin juga sangat berpedoman untuk mempermudah urusan orang lain. Sebab, ia yakin dengan begitu, maka Tuhan akan mempermudah urusannya juga. (ifa/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya