alexametrics

Pelayan Umat, Ya Pelayan Klien

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berlatar belakang awal pendidikan sebagai misionaris di Jogjakarta dan Sarjana Ekonomi, Daniel Hari Purnomo, awalnya diminta menjadi pelayan umat di Nepal. Tapi, nasib menghempaskannya ke Jombang pada 1997.

Seharusnya, setelah ditasbihkan, jatah saya  terbang ke Nepal menjadi pelayan umat di sana. Tapi tidak jadi dan dialihkan ke gereja di Jombang, Jawa Timur,” kenangnya.  Saat itulah, dia merasa yakin, inilah jalan hidup yang mesti dilalui. Namun, seiring perjalanan waktu, di sela-sela melayani umat, seakan-akan ada panggilan hati yang tiba-tiba muncul, kala dia menemukan ada sesuatu yang disembunyikan di atas sebuah kebenaran.

“Saya adalah orang yang selalu lapar dan haus. Tidak bisa melihat ketidakadilan dan ketidak-benaran. Yang saya dengar dan saya saksikan ketika ada orang datang pada saya,” tuturnya tegas. Ia pun bertekad menjadi lawyer, sebagai jalan menjadi “Sang Pembela”.

Baca juga:  Pensiun Dini demi Jadi Advokat

Maka, pada 1999, berangkatlah Daniel ke Surabaya. Menempuh S1 Hukum di Universitas Bhayangkara. Lulus pada 2003, ia sambung S2 di Universitas Wijayakusuma, Surabaya. Sempat bolak-balik Surabaya-Semarang dan magang di banyak kantor pengacara, pada  2008, Daniel memutuskan menetap di Kota Lunpia. Keputusan ini diambil setelah ia lulus ujian menjadi profesi advokat. Di Ibu Kota Jawa Tengah, sepak terjangnya sebagai advokat pun dimulai. Kasus pertama yang ditangani adalah penangkapan debt collector (DC).

“Kasus leasing yang pertama saya tangani, dari situ saya jadi tahu, bagaimana profesi DC yang selama ini dianggap oleh sebagian kita sebagai sampah masyarakat,” tutur ayah dua anak ini. Pergumulannya membela profesi DC, membuat Daniel didaulat menjadi Ketua Asosiasi Pekerja Jasa Penagihan Indonesia (APJPI).

Baca juga:  Tidak Pernah Cerita Kasus ke Istri

“Saya ingin menghapus stigma negatif tentang DC. DC merupakan pekerjaan yang ada aturannya. Untuk itu, tugas saya mengedukasi mereka serta masyarakat,” kata suami  Johana Hari Purwanti ini. Karenanya, Daniel mengaku sedih jika ada DC yang ditangkap. Padahal, DC sudah menjalankan pekerjaannya secara profesional.

Pembelaan terhadap tersangka kasus penolakan pemakaman perawat yang meninggal karena Covid-19 di Ungaran pada April 2020, cerita Daniel, menjadi kasus yang paling menarik baginya.  Dia dan klien mendapat ribuan ancaman pembunuhan. Kasus penolakan pemakaman yang baru pertama kali terjadi, lantas menjadi patokan pengadilan di seluruh Indonesia atas kasus yang sama. “Pembelaan saya menjadi yurisprudensi. Artinya, keputusan hakim di PN Ungaran ini, dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim lain untuk menyelesaikan perkara yang sama.”

Baca juga:  Menjadi Advokat karena Tertipu

Sesibuk-sibuknya Daniel, baik melayani umat maupun klien, tak membuatnya lupa akan keluarga. Baginya, keluarga adalah nomor satu, pelayanan nomor sekian. Bagaimana mungkin bisa melayani umat, klien, dan ribuan DC, jika keluarga tidak terlayani dengan baik. “Anak saya yang paling kecil kadang protes, ketika saya terlalu sibuk. Dia bahkan pernah menunggui sampai saya pulang. Padahal, saya baru pulang hampir pagi, karena ada urusan pekerjaan,” ucap ayah dari Tesia Daniela dan  DC Elgibor ini. (sls/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya