alexametrics

Menjadi Advokat karena Tertipu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pengalaman adalah guru terbaik. Itulah yang membuat H. Muhammad Widodo, SH,  terjun menjadi advokat.

Panggilannya Widodo. Menjadi advokat bermula dari rasa “dendam”. Ya, dendam karena Widodo pernah menjadi korban penipuan investasi. Peristiwa itu terjadi 10 tahun silam.

Berapa nilai rupiah yang hilang akibat bisnis investasi yang diikutinya? “Nilainya tidak sedikit,” ucap Widodo kepada jurnalis Jawa Pos Radar Semarang yang mewawancarai via daring. Saat diwawancara, badan Widodo sedang tidak fit. Sehingga ia minta interview dilakukan secara daring.

Nilai sedikit yang dimaksud Widodo, bukan puluhan atau ratusan juta. Melainkan  miliaran rupiah. Rupanya, bukan Widodo seorang yang kena tipu. Tapi juga keluarganya. Sehingga jika ditotal nilainya mencapai miliaran.

Tidak ingin kejadian serupa terulang, dia pun berkeinginan menjadi seorang lawyer. Karenanya, selepas kuliah di Fakultas Hukum Untag Semarang, Widodo magang di kantor pengacara Dani Sriyanto & Partners. “Saya jadi lawyer, salah satu motivasinya, agar bisa membela orang-orang yang pernah bernasib seperti saya,” kata suami dari Kiswatun Khasannah, SH, ini.

Baca juga:  Hadapi Sistem Hukum yang Bias Jender

Tekadnya semakin membulat, saat intens mendampingi bosnya, Dani Sriyanto SH, menangani perkara-perkara besar yang kerap dimenangkan. “Saat melihat Pak Dani melakukan pembelaan di persidangan, saya sangat kagum melihat kepandaian dan semangat beliau,” ucapnya.

Karenanya, setelah proses magang selesai, ia memantapkan diri untuk bekerja di firma hukum almamaternya. Sehari-hari berkantor di Jalan Thamrin, Semarang. Meski harus dilaju pulang-pergi Demak-Semarang, toh Widodo tetap bersemangat.

Ia mengaku senang, sekaligus bahagia bisa menjadi advokat.  “Jujur, saya merasa bisa bangkit lagi dari nol setelah  terpuruk karena jadi korban investasi.” Meski tidak muda lagi, pria yang salah satu anaknya menjadi anggota Polri itu, tekun belajar hukum. “Belajar dan belajar,  terus saya lakukan. Apalagi saya sadar, usia saya sudah tidak muda lagi,” katanya.

Baca juga:  Pensiun Dini demi Jadi Advokat

Setiap mengikuti persidangan, ia akan mengamati secara detail. “Belajar dan mengamati setiap persidangan yang saya ikuti, adalah guru terbaik saya memperdalam ilmu. Apalagi perkara-perkara yang ditangani Pak Dani adalah perkara-perkara berat semua,” tuturnya.

Setiap menangani perkara, semboyannya cuma satu: harus menang. Karena itu, Widodo akan selalu fight dalam menggali data dan alat-alat bukti agar tidak mudah dipatahkan oleh pihak lawan. “Ini komitmen saya, karena saya membawa nama besar kantor pengacara tempat saya bernaung. Karena itu, saya selalu all out, baik saat mendapat kasus perdata maupun pidana.”

Disinggung penegakan hukum di Indonesia saat ini, ayah tiga anak itu menilai, penegakan hukum sudah berjalan ke arah lebih baik. Baik institusi kehakimannya, kejaksaan, dan kepolisian. Termasuk, kalangan advokat sendiri sebagai bagian penegakan hukum. “Saya melihat sudah ada keadilan dan keberimbangan dalam penegakan hukum.”

Baca juga:  Jadikan Keluarga sebagai Support System

Selain menjadi lawyer, Widodo masih menggeluti bisnis bersama sang istri. Karena pengalaman pahitnya, ia kini semeleh dalam menghadapi setiap persoalan. “Selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT, karena hanya Dia-lah tempat meminta pertolongan.” (sls/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya