alexametrics

Mengajar Pendidikan Advokat hingga Dirikan Padepokan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menekuni bidang advokat sejak 1984, Sutrisno sampai saat ini masih dipercaya oleh Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) untuk menjadi pengajar pada  Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Kurikulum pendidikan ini bekerja sama dengan sejumlah pergurun tinggi.

Menyadari  susahnya menjadi advokat, maka pada 2006 silam, Sutrisno berusaha membantu lulusan Fakultas Hukum yang ingin menjadi lawyer. Tujuannya,  sharing ilmu dan mempersiapkan diri mereka untuk ujian advokat.

Sutrisno pun menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar.  Awalnya, hanya dikuiti 3-5 calon advokat.  Tak dipungut biaya alias gratis. Hingga berjalannya waktu, antusiasme calon advokat muda untuk belajar ke Sutrisno semakin banyak. Hingga tersematlah nama Padepokan Zebra Semarang, sebagai tempat untuk menggodok calon-calon advokat. Nama Zebra diambil dari nama jalan rumahnya.

“Hidup saya itu mudah. Karena prinsip hidup saya adalah bagaimana hidup saya itu bisa berbuah. Selain berbuah bagi saya dan keluarga, saya juga harus berbuah kepada orang lain. Saya mensyukuri apapun itu rezeki dari Tuhan. Karena itu, mengadakan belajar bersama tadi,” ucapnya.

Baca juga:  Tebus Kesalahan Masa Lalu

Mengulik background pendidikannya, Sutrisno lulus sarjana dan magister hukum di Universitas Sultan Agung Semarang.  Tepatnya, pada rentang 1977-1984. Keinginannya menjadi advokat, muncul sejak SMA. Alasannya mulia: ingin menegakkan hukum sebagaimana peraturan perundang-undangan.

Pria berusia 63 tahun itu mengenang, awal menjadi lawyer,  masyarakat masih belum memandang sinis profesi advokat.  “Saat itu pengacara masih dipandang sebelah mata. Banyak yang berpikir, mengapa orang salah kok harus dibela,” ucapnya. Padahal, orang yang bersalah pun tetap harus terlindungi secara hukum. “Nah, di situlah peran seorang advokat.”

Inspirasi menjadi advokat, tutur Sutrisno, sebenarnya dari orang tuanya. Ayahnya seorang kepala desa. “Saya sering melihat Bapak menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dikeluhkan warga. Itulah yang menginspirasi saya menjadi advokat.”

Toh, orang tua Sutrisno, tak menginginkan buah hatinya menjadi lawyer. “Orang tua ingin saya jadi PNS,” ucapnya. Satu sisi, keinginan Sutrisno untuk menjadi advokat sudah bulat.  Maka, ia pun membuat skenario.  “Saya sampai harus bohong sama orang tua, dengan bercerita kalau saya pura-pura datang tapi tidak mengikuti tes CPNS karena telat,” kenangnya. Ia lakukan itu agar tidak mengikuti tes CPNS.

Baca juga:  Menjadi Advokat karena Tertipu

Setelah usaha “menggagalkan” diri sendiri sebagai PNS berhasil, restu menjadi advokat dari orang pun berhasil didapat. Kepada Sutrisno, orang tua berpesan agar ia memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang butuh bantuan hukum.

Pesan lain, Sutrisno diminta jangan sampai membela tetangga sendiri, utamanya soal sengketa tanah. “Sampai saat ini, kalau tetangga yang ada sengketa tanah, saya menghindar. Saya sarankan untuk mencari pengacara  lain saja.”  Sutrisno menganggap, profesi advokat yang dijalaninya, sudah seperti hobi. Dengan menjadikan sebagai hobi, maka ada atau tidaknya profit, sudah bukan menjadi tujuan akhir.

Sutrisno memulai karir pertamanya sebagai advokat di Badan Pembelaan dan Konsultan Hukum Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (BPKHMKGR) Golkar pada 1884. Tepatnya, setelah ia menyelesaikan S1 dan S2 Hukum.

Dua tahun kemudian, Sutrisno ia diajak oleh advokat  senior, Haryadi Wijaya,  yang saat itu merangkap sebagai dosen Unpad. Oleh Haryadi Wijaya, Sutrisno digembleng hingga matang. Hingga pada 1994, Sutrisno memutuskan untuk mendirikan firma hukum sendiri.

Baca juga:  Dampingi Guru Korban Pinjol

Ada cerita menarik Sutrisno kali pertama menangani kasus. Bermodalkan  percaya diri, ia mendatangi klien. “Anehnya, saya justru tidak paham dengan masalah yang disampaikan klien. Begitu juga klien, tidak paham dengan apa yang disampaikan,” kenangnya. Kala itu, ia menangani konflik  tanah di Sragen. Bersama tim, Sutrisno naik mobil bak terbuka layaknya pemain bola tarkam.

“Ya, tidak ada kata gengsi-gengsian. Bahkan, ketika itu dibayar seribu rupiah pun sudah senang,” ceritanya.  Bagi Sutrisno, keluarga tetap nomor satu. Sesibuk apapun, ia sempatkan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Baginya, keluarga tidak seharusnya dikorbankan.

Di sela kesibukannya, Sutrisno masih menyempatkan diri menyalurkan hobi  menanam sayur. “Buat refreshing. Sudah sejak dulu. Sayurnya juga bisa dinikmati bersama. Semua orang boleh ambil. Ada cabai, terong, timun, dan lain-lain.” (cr3/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya