alexametrics

Menangkan Kasus, Pernah Dibayar Sekarung Beras Plus Kambing

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Awalnya ingin menjadi pegawai bank. Lantas, pernah juga ikut seleksi sebagai calon hakim dan jaksa. Tak lolos juga. Agus Dani Sriyanto SH, akhirnya menjalani profesi sebagai advokat.

Lahir dan besar di Wonogiri. Dani remaja, selalu terpesona melihat  pegawai-pegawai bank yang stelan fashionnya rapi jail. Karena itu, ia menautkan cita-citanya menjadi  pegawai bank. “Karena ingin jadi pegawai bank, maka setelah lulus SMA, saya kuliah ambil jurusan ekonomi, biar nyambung,” kenang Dani.

Ikut tes ujian masuk perguruan tinggi negeri di Universitas Negeri Surakarta (UNS), nama Dani Sriyanto tak masuk ke daftar mahasiswa yang diterima. Pilihan kedua, masuk ke Fakultas Hukum. Ia lantas mendaftar di universitas swasta: Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kali ini, Dani diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum.

Lulus dari Fakultas Hukum, Dani mencoba peruntungan menjadi abdi negara,  dengan mengikuti tes sebagai calon hakim (cakim). Sayangnya, gagal. Tak patah semangat, ketika ada tes sebagai calon jaksa, ia pun mendaftar. Tes pertama, Dani lolos. Tes selanjutnya dilaksanakan di Kejaksaan Agung, Jakarta. “Untuk tes wawancara,” ucapnya.

Baca juga:  Kasus Legalisasi Anak Membekas di Hatinya

Lagi-lagi, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya. “Nah, pada saat tes wawancara, saya tidak lolos,” tutur pemilik Pondok Baca Alquran Al Mardiyyah di Wonogiri, ini. Untuk mengisi kevakuman karena tak ada pekerjaan, Dani akhirnya mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Fakultas Hukum Unisri Solo. Ujiannya, di Pengadilan Tinggi Jateng. Ia pun dinyatakan lulus sebagai advokat. “Lulus sebagai advokat, saya buka praktik kantor pengacara sendiri di Wonogiri.” Kasus pertama yang ia tangani: perceraian dan warisan.

Yang menarik, saat menangani kasus warisan dan dinyatakan menang, klien Dani membayarnya dengan sekarung beras plus seekor kambing. “Dibayar kambing dan  beras sebagai wujud rasa terima kasih klien, karena perkaranya menang,” kenang Dani, sembari tersenyum, mengingat kejadian itu.

Menjadi lawyer  di Wonogiri, Dani merasa kurang tertantang. Kasus yang ditangani tata-rata perceraian dan warisan. Ia ingin berkembang. Karenanya,  pengoleksi keris ini, merantau. Tujuannya: Kota Semarang.

Di Semarang, Dani bergabung ke kantor Subyakto SH, MH & Partners pada 2002. Kala itu, kantornya di Jalan Gajah Raya. Di firma hukum Subyakto, ia banyak menangani kasus-kasus besar. Lewat tangan dingin Subyakto, Dani dipoles menjadi lawyer berkelas.

Baca juga:  Menjadi Advokat karena Dorongan Suami

“Bagi saya, beliau guru saya yang luar biasa,” ucapnya. Bersama Subyakto juga, Dani Sriyanto mendirikan Partai Demokrat di Jawa Tengah. “Itu awal Partai Demokrat berdiri di Jawa Tengah.”

Merasa sudah cukup bergabung di firma hukum Subyakto,  Dani lantas mendirikan firma hukum sendiri. Namanya: kantor pengacara Dani Sriyanto & Partners.   Kasus-kasus besar ia tangani. Utamanya, kasus korupsi yang membelit sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah.

“Selama menjadi lawyer, bagi saya yang menarik adalah perkara korupsi, karena saya banyak belajar kehidupan semu para penguasa,” ucap pria yang hobi nge-vlog saat kulineran. Menangani kasus korupsi, satu sisi juga membantu penegak hukum dalam mengembalikan kerugian negara.

Ditanya soal penegakan hukum saat ini, Dani berpendapat, posisi lawyer sebagai penegak hukum belum setara dengan hakim, jaksa, dan polisi. Lawyer lebih banyak didudukan sebagai mediator dan fasilitator oleh penegak hukum lain dalam proses penanganan perkara.

Baca juga:  Advokat Profesi Panggilan Hati

Prinsip hidup yang dipegang kolektor motor-motor kuno ini adalah hidup sebisa mungkin memberi maslahat kebaikan untuk orang lain. “Menjalani prinsip hidup itu, cukup dengan melakukan hal hal sederhana dengan cara-cara yang agung,” tuturnya.

Di tengah kesibukannya beracara, Dani tetap memprioritaskan keluarga dan menjadikan ibadah yang utama. “Sebisa mungkin saya memberikan waktu yang berkualitas walaupun terbatas untuk keluarga.”

Sebelum pandemi, Dani kerap mengajak anak-anak dan istrinya ke sejumlah objek wisata. Ia sangat suka  pemandangan alam berupa  gunung, laut, dan   suasana pedesaan. “Karena itu, kalau jalan ke luar kota, saya sempatkan untuk nge-vlog, terutama mengeksplorasi kuliner khasnya,” ucap pria yang hobi berternak serta merawat barang etnik dan klasik itu. Soal mendidik anak, Dani dan istri menekankan pada anak-anaknya untuk menjadi  pribadi yang bertanggung-jawab, punya skill, jujur, dan amanah, serta tuma’ninah dengan  ibadahnya. (isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya