alexametrics

Komitmen Membantu Orang Kecil

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berperan menjadi seorang istri sekaligus ibu, tak menjadikan Endah Prasetyaningsih berhenti berkarir. Sebagai advokat, kiprahnya membela masyarakat miskin sangat banyak. Utamanya, di daerahnya: Grobogan.

Sejak  2009, ia sudah beracara. Pengelola Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Satria Tegowanu ini  fokus membantu orang miskin. Menurut Endah—sapaan intimnya—mereka punya kesempatan untuk dibela dan mendapatkan keadilan.

Untuk mewujudkan itu, Endah bekerjasama dengan beberapa biro hukum. Di antaranya, Kementrian Hukum dan HAM Jawa Tengah, Biro Hukum Kabupaten Grobogan, Biro Hukum Provinsi Jawa Tengah, serta kedutaan Indonesia di Taiwan, Singapura,  Hongkong, dan Korea.  “Dari hati kecil saya, saya tertarik membantu orang yang lemah hukum, apalagi yang kekurangan ekonomi. Supaya ada pemerataan hukum,” ujarnya.

Dari keseluruhan perkara yang ia tangani, bantuan hukum gratis yang ia berikan mencapai 60 persen. Di sisi tergerak membantu orang miskin, ia juga dituntut memenuhi target dari biro hukum yang bekerja sama dengannya. “Perkara pribadi lebih sedikit. Kalau perkara pidana yang nonlitigasi saja,” tambahnya.

Baca juga:  Masing-Masing Perkara Itu Unik

Bagi Ketua DPC KAI Kabupaten Grobogan ini, pentingnya memberikan bantuan hukum gratis sangat krusial. Mengingat penegakan hukum di Indonesia saat ini masih  tumpul ke atas, namun tajam ke bawah. Artinya, hukum saat ini adil bagi mereka yang memiliki uang banyak. Sementara bagi mereka yang tidak punya uang, hukum berlaku. Bahkan bisa membuat yang benar jadi salah dan salah jadi benar.

Endah pun menceritakan, ada satu perkara yang terkenang hingga saat ini. Kala itu, kliennya merupakan orang tidak mampu yang terlibat kasus pembunuhan. Ia diminta menjadi penasihat hukum sampai di tingkat persidangan. Sempat diduga sebagai tersangka pembunuhan, Endah lantas membuktikan bahwa kliennya bukan pembunuh. Kliennya merupakan orang tidak mampu, dan dia butuh bantuan hukum. “Dia bilang ‘saya butuh pembelaan, saya tidak membunuh, tapi saya nggak punya uang untuk bayar pengacara. Saya tergugah untuk membantu,” kenangnya.

Baca juga:  Pensiun Dini demi Jadi Advokat

Padahal, demi mengungkap kasus tersebut, butuh banyak biaya. Endah  tak patah arang. Berkat biro hukum yang bekerja sama dengannya, ia bisa menyelesaikan perkara tersebut.

Di sisi lain, Endah mengaku tak begitu terjun menangani perkara pidana. Ia lebih banyak menggarap kasus di Pengadilan Agama. Seperti perceraian, dispensasi kawin, perwalian, dan lain-lain. Menurutnya, hal itu sangat cocok dengan posisinya sebagai seorang ibu rumah tangga. “Saya ini perempuan, punya tanggung jawab suami dan anak. Jika di Pengadilan Negeri, sidang bisa sampai malam. Akhirnya saya pilih di PA karena waktunya pasti. Jadi masih ada waktu mengurus keluarga,” ucapnya.

Di sisi lain, perkara yang berada di PA lebih banyak menggunakan perasaan. Tentu ini sejalan dengan sosoknya sebagai perempuan yang lebih peka. “Di daerah saya sudah dikenal, ‘Bu Endah ini spesialis menangani kasus Pengadilan Agama’. Jadi kalau berhubungan dengan PA larinya ke saya,” ucapnya.

Baca juga:  Beri Pendampingan Kasus Fidusia

Selain menegakkan hukum dan keadilan, perempuan kelahiran Grobogan 7 April 1970 ini selalu memprioritaskan keluarga. Jika di rumah, Endah tak pernah menyentuh pekerjaan, Ia berikan sepenuhnya untuk keluarga. (ifa/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya