alexametrics

Keluarga Tempat Mengembalikan Daya Juang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Lulus kuliah dari Fakultas Hukum (FH) Unissula Semarang pada 2008, Wishnu Rusdianto SH, tak langsung menjadi seorang advokat. Selama 4,5 tahun, Wishnu justru berkutat menjadi sales kartu kredit dan digital printing.

Sebetulnya, setelah lulus kuliah, saya sempat magang di LBH Semarang tahun 2008. Tapi karena tidak lulus ujian advokat, saya banting stir jadi marketing digital printing dan sales kartu kredit bank,” cerita pria yang memiliki tiga putra buah pernikahan dengan Puspowati.

Bergelut di lembaga perbankan, membuat Wishnu mendapat pelajaran persoalan-persoalan masyarakat dengan lembaga perbankan. Seperti kasus kredit macet, utang macet, proses lelang, dan persoalan proses balik nama.

Berawal dari keprihatinan atas persoalan yang dialami masyarakat dan ingin membantu itulah, Wishnu memutuskan untuk kembali ke dunia pengacara. Maka, pada 2013, dia mendaftar ujian advokat yang diselenggarakan oleh Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan dinyatakan lulus.

Baca juga:  Bekerja Sesuai Passion

“Saya masih ingat, kasus pertama yang saya tangani penggelapan di salah lembaga keuangan di Kudus yang melibatkan orang dalam,” kisah Wishnu.

Seiring berjalannya waktu, beragam kasus, mulai pidana maupun perdata ‘mampir” pada dirinya untuk mendapat pembelaan. Namun, satu kasus perdata yang cukup menarik dan menyita perhatiannya adalah kasus yang melibatkan salah satu anak pemilik saham perusahaan rokok besar di Tanah Air. Menarik, karena kasus yang ditanganinya sejak 2018 hingga kini, melebar dari kasus perdata merembet hingga pidana.

“Ada pembayaran yang seharusnya dibayar oleh pihak lawan dengan jaminan tiga sertifikat, namun ternyata ketiga sertifikat itu tidak bisa dialihkan. Akhirnya, berujung saling lapor dan gugat,” ungkap pria penghobi berat naik gunung ini.

Baca juga:  Menjadi Advokat karena Terinspirasi Ayah

Kasus yang memakan waktu lama penyelesaiannya, sudah barang tentu membutuhkan mental dan strategi yang kuat serta tepat. Toh, Wishnu meyakini bahwa kebenaran akan terungkap dan menang. Itu sesuai prinsip yang selama ini dipegangnya. Yakni:  keadilan bukan hanya perlu dijalankan, tapi juga harus tampak dan dijalankan.

“Artinya bahwa keadilan yang menjadi idaman masyarakat, bukan hanya sekadar jargon. Tapi harus diwujudkan dan dipraktikkan secara nyata, sehingga masyarakat pencari keadilan tahu.”

Sikap optimismenya, seiring dengan penegakan hukum, yang menurutnya sudah berjalan sesuai koridor. Di mana instrumen penegakan hukum, seperti penyidik Polri, jaksa, hakim, dan pengacara, berjalan sesuai tugasnya.

“Tinggal orang-orang yang menjalankan. Memang butuh orang-orang yang memiliki kepribadian baik. Kalaupun ada yang menyimpang, itu lebih pada oknum. Tidak semua,” tuturnya optimistis.

Baca juga:  Tidak Pernah Cerita Kasus ke Istri

Disinggung tentang kepenatan menangani kasus dan keluarga, bagi pria kelahiran Semarang, 8 Februari 1984 itu, keluarga adalah tempat mengembalikan “daya juangnya”. Menghabiskan weekend bersama keluarga merupakan ritual wajib. Tak jauh-jauh dari hobinya, biasanya dia mengajak istri dan ketiga anaknya ngecamp di pegunungan.

“Saya ajak istri dan anak-anak bermalam mendirikan tenda di pegunungan, dekat dengan alam, sekaligus Sang Pencipta. Ini ibarat suntikan energi bagi saya,” tutur pria yang sudah menaklukkan banyak kasus dan gunung. Seperti Semeru, Rinjani, hingga  Kerinci ini. (sls/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya