alexametrics

Kasus Pertama, Tangani Perkosaan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Awalnya bercita-cita menjadi seorang diplomat. Tapi, jalan hidupnya berubah, saat melihat cara kerja advokat menangani kasus hukum. Osward Febby Lawalata, justru bertekad menjadi seorang lawyer.

Masuk Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), Osward mendalami jurusan Hukum Internasional. Suatu hari, ia mengikuti kunjungan ke Kemenlu dan HHP (Hadiputranto Hadinoto & Partners), salah satu firma hukum terbesar di Indonesia. Saat itu, ia melihat secara langsung cara kerja hukum membantu manusia. “Sejak saat itu, saya membulatkan diri, bertekat menjadi pengacara,” kenangnya.

Karenanya, usai menamatkan pasca-sarjana, Osward magang di firma hukum milik John Richard Latuihamallo SH, MH selama setahun. Ia lantas bekerja dan belajar menjadi advokat selama empat tahun. Baru pada 2015, Osward mendirikan firma hukum sendiri. Apa kasus pertama yang Anda tangani? “Saya menangani kasus perkosaan. Perkosaan terjadi di diskotek. Menurut saya, ini sanggat menarik bagi lawyer pemula seperti saya,” kenangnya. Osward juga pernah mendampingi klien, seorang pegawai bank yang dituduh bersekongkol dengan debitur.

Baca juga:  Menjadi Advokat karena Tertipu

Melalui banyak kasus yang ia tangani, Osward belajar bahwa semua orang berhak menerima pendampingan hukum dan dibela di persidangan. Semua manusia, ucap advokat asal Ambon, itu, patut diberi kesempatan kedua. “Tuhan saja memberi pintu maaf dan kesempatan untuk bertaubat, masa manusia tidak?” sentilnya.

Pada 2018 lalu, Osward pernah menangani dua perkara yang membelit  konglomerat di Semarang. Perkara pertama terdiri atas lima kasus. Sedangkan perkara kedua, 15 kasus. Keduanya kasus perdata dan pidana. Hampir dua tahun ia habiskan untuk menyelesaikan dua perkara panjang tersebut. Sebagai advokat baru dan muda, ia mengaku bangga mendapat kepercayaan untuk menangani kasus besar. “Itu masa paling sulit dan menantang di hidup saya, tapi akhirnya berhasil saya menangkan.”

Baca juga:  Hadapi Sistem Hukum yang Bias Jender

Osward juga pernah membantu ketua RW yang digugat warga pendatang. Kliennya dituduh memeras karena menarik iuran. Bersama temannya, kasus itu pun berhasil ia menangkan. “Stigma di masyarakat kita bahwa orang yang pernah masuk penjara itu kriminal, padahal belum tentu. Hakim saja belum memberi putusan. Tersangka kan masih melalui proses penyidikan dan persidangan. Jadi, dia belum tentu bersalah.”

Bagi Osward, membela orang-orang seperti ketua RW, memberikan kepuasan tersendiri. Ia melakukan pekerjaannya dengan tulus dan sukarela. Pengacara muda itu tidak sepakat dengan jargon: the have always go ahead. Karena lazimnya, hukum tidak hanya membantu orang kaya saja, tapi juga rakyat jelata.

Satu sisi, Osward mengaku sangat menikmati profesinya. Advokat memberi pendampingan hukum, membela, dan memastikan bahwa seorang klien mendapatkan hak-haknya dalam menjalankan proses hukum. “Menurut saya, ini profesi mulia, yang membantu atau membela manusia, selain guru dan dokter.”

Baca juga:  Kedepankan Kejujuran, Berlandaskan Materi Hukum

Pria berusia 33 tahun itu, sangat luwes menjalani kehidupan pribadinya. Setelah memiliki kantor sendiri, ia membatasi jam kerja hingga pukul lima sore agar tidak overworking. Saat senggang, Osward menyempatkan baca buku hukum dan biografi. Ia juga kerap menonton film bertema kriminal atau kolosal di bioskop. Sesekali, Osward ngopi bersama teman lawyer atau klien.  Selama meniti karir,  Osward memiliki semangat untuk mendorong masyarakat agar tidak menstigma seorang tersangka sebelum putusan. Karena hakim yang berhak menilai dan memberi pidana, berdasar azas praduga tak bersalah. (taf/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya