alexametrics

Kasus Legalisasi Anak Membekas di Hatinya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bercita-cita menjadi dosen merupakan impian sejak kecil Alfian Guntur Arbiyudha, SH. Apalagi, latar belakang orang tuanya yang pendidik, membuat pria yang karib di sapa Yudha itu ingin mewujudkannya.

Hanya saja, selepas menempuh pendidikan SMA, Yudha—sapaan intimnya—justru mengambil D1 di sekolah penerbangan. Sempat magang di salah satu maskapai setelah lulus,  Yudha justru “banting stir”, bercita-cita menjadi seorang advokat.

“Bagi saya, profesi advokat itu pekerjaan independen. Bekerja sendiri, mencari klien sendiri, profesional fee dan tidak bisa dipengaruhi orang lain,” beber advokat yang mengagumi sosok ahli hokum tata negara, Profesor Yusril Ihza Mahendra ini.

Demi mewujudkan keinginannya itu, Yudha kuliah di UIN Walisongo Semarang dan menyelesaikan S1 Hukum pada 2008. “Magang di kantor-kantor pengacara, hingga lulus ujian profesi advokat pada  2014, menjadi awal bagi saya semakin tertarik dengan dunia hukum” tuturnya.

Baca juga:  Prinsipnya, Permudah Urusan Orang Lain

Setelah sah beracara, ayah dua anak ini mendapat klien pertama menangani kasus waris. Ia bersyukur, berhasil mendamaikan kedua belah pihak yang berperkara. Kasus demi kasus pun datang silih berganti. Namun, kasus legalisasi anak yang melibatkan seorang WNI dengan suaminya, warga Korea Selatan, merupakan  kasus yang paling menarik, selama kiprahnya sebagai pengacara.

“Saya benar-benar bekerja ekstra keras saat itu untuk mengumpulkan bukti-bukti di tengah waktu yang mepet, agar si anak hasil pernikahan agama kedua orang tuanya, mendapat pengakuan sebagai anak biologis warga Korea itu,” cerita Yudha.

Tak sia-sia, kerja kerasnya berhasil mewujudkan keinginan klien. Sehingga sang anak, berhak mendapat hak-haknya. Seperti biaya hidup serta biaya pendidikan di Korea, asal negara sang ayah. Tidak hanya orang berpunya. Yudha juga kerap mendampingi warga  tidak mampu yang tersandung kasus hukum. Itu diwujudkannya bersama Lembaga Penyuluhan dan Konsultasi Bantuan Hukum (LPKBHI) UIN Walisongo.

Baca juga:  Mengikuti Jejak Sang Idola

“Warga yang kurang mampu, bisa memanfaatkan LPKBHI untuk pendampingan hukum, karena kami lembaga yang terakreditasi A Kemenkumham dan Pemprov Jateng. Silahkan tunjukkan surat keterangan tidak mampu, maka kami dampingi perkara secara probono atau gratis.”

Karena itu, saat melakukan pendampingan, Yudha  tak pernah memandang calon klien dari status sosial, sesuai prinsip sebagai advokat profesional. Pantang baginya memandang kaya atau miskin. Karena itu, ia mengaku kerap sedih ketika di lapangan, terjadi praktik penegakan hukum yang masih tumpul ke atas, tajam ke bawah.

“Kasus perdata, misalnya kasus PHI (Pengadilan Hubungan industrial) ang melibatkan buruh dan pengusaha, buruh menjadi pihak yang lemah. Apalagi melawan pengusaha yang memiliki power, ini menjadi pekerjaan rumah. Hukum harus tajam ke semua pihak,” tegasnya.

Baca juga:  Pensiun Dini demi Jadi Advokat

Bersinggungan dengan kasus-kasus hukum dan sesekali menangani perkara yang berisiko, toh membuat pria kelahiran 1989 ini tetap enjoy menikmati hidup bersama keluarga kecilnya. Bersama sang istri, Tina Kristianti dan dua buah hatinya: Kania Fatima Ceza serta Hajid Aidan Yusuf, Yudha kerap meluangkan waktunya berwisata  kuliner, sembari menyalurkan hobinya, memancing. “Kebetulan saya hobi mancing, jadi kalau weekend saya ajak istri dan anak-anak ke kolam pemancingan. Kita mancing bareng sekalian makan bersama, ha..ha..ha..”gelaknya. (sls/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya