alexametrics

Jadikan Keluarga sebagai Support System

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sesuai passion dan suka tantangan, menjadi alasan tersendiri bagi Atatin Malihah untuk menjadi seorang advokat.

Mengawali karier sebagai advokat di usia 35 tahun. Single parent dengan tiga orang ini menuturkan, advokat menjadi pilihan profesi paling logis, sesuai disiplin ilmu yang dipelajarinya. “Ini sesuai ridho guru dan orangtua saya. Kebetulan juga ada mentor yang menemukan bakat saya. Nah, perpaduan hal-hal itu, yang menjadikan saya mantap menjadi lawyer,” kata alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini.

Atatin menjelaskan, sebelum resmi menjadi lawyer, dia sempat magang di kantor pengacara  DJW & Associates. “Kalau tidak salah,  selama tujuh  tahun saya magang di sana,” ucap perempuan bersahaja itu. Sebelumnya, pada 2009 dia mengikuti ujian profesi advokat di Kongres Advokat Indonesoa. “Saya disumpah menjadi advokat tahun 2010, setelah itu proses magang tadi,” ucap pemilik firma hukum Law Firm Atatin Malihah & Partners ini.

Atatin mengenang, kasus pertama yang ditangani setelah membuka kantor pengacara sendiri adalah perkara perdata. Suatu hari, tutur Atatin, seorang perempuan yang datang ke kantornya. Klien  bermaksud menggugat suaminya. “Saya harus memperjuangkan hak-hak klien saya dengan baik. Kebetulan, secara agama, klien agamanya sama dengan saya, muslim. Dengan kembalinya suaminya ke agama semula (nonmuslim) otomatis perkawinannya rusak,” beber Atatin.

Yang juga menarik, kenang Atatin, pada saat mendampingi klien di Polda. Kala itu, kasusnya masih tahap penyelidikan. Karena bergelar S.Ag di belakang namanya, membuat penasaran Kasat Reskrim. “Rupanya beliau penasaran dengan saya, ‘pengacara kok S.Ag gitu, he…he..he..,” ucapnya.

Baca juga:  Mengajar Pendidikan Advokat hingga Dirikan Padepokan

Diskusi dengan sang Kasat Reskrim pun terjadi di ruang kerja perwira polisi tersebut. “Saya memang dari Fakultas Syariah. Kemudian, kami sama-sama membuka UU Advokat dan membaca penjelasan Pasal 2 Ayat (1) bahwa yang dimaksud dengan berlatar belakang pendidikan tinggi hukum adalah lulusan Fakultas Hukum, Fakultas Syariah, Perguruan Tinggi Hukum Militer, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.”

Kasus paling menarik apa, yang pernah Anda tangani? “Kasus Bupati Kebumen berhadapan dengan KPK di Pengadilan Tipikor Semarang,” ucap Atatin. Mengapa? “Karena itu kasus besar pertama yang saya tangani, pada  saat saya awal-awal membuka firma hukum sendiri.”

Atatin melanjutkan, “Mendapat kepercayaan dari beliau (Bupati Kebumen) untuk membantu mengungkap fakta yang sebenarnya, memperjuangkan haknya sebagai terdakwa.” Sejak saat, klaim Atatin, mulai banyak klien yang meminta bantuannya  untuk menangani perkara-perkara tindak pidana korupsi. “Kebetulan media juga menyorot kasus tersebut, sehingga wajah saya sempat wara-wiri di stasiun televisi swasta nasional untuk program khusus investigasi. Karena perkara Tipikor memang tidak bisa sendirian,” bebernya.

Kasus lain yang juga menarik adalah perkara di PTUN Semarang. Dua klien Atatin menempati  ranking tertinggi dalam seleksi dua formasi perangkat desa di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Ironisnya, sang Kades tidak mau melantiknya. “Alhamdulillah menang terus sampai  upaya hukum terakhir, yaitu Peninjauan Kembali.”  Klien Atatin pun akhirnya dilantik. “Saya mengawal sampai pelantikan mereka. Bahagia rasanya. Mengikuti pelantikan adalah kepuasan batin saya.”

Baca juga:  Tidak Pernah Cerita Kasus ke Istri

Disinggung prinsip hidupnya, Atatin menjawab: khoirunnas anfauhum limas. Yaitu, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain. “Saya berharap, hidup saya bermanfaat untuk diri, orang lain di sekitar saya, lebih luas lagi adalah masyarakat. Bisa membantu mendamaikan orang yang sedang berselisih, membantu orang menyelesaikan masalahnya, memperjuangkan haknya dan sebagainya,” ucap perempuan yang juga aktif di Fatayat NU Jawa Tengah sebagai Ketua Politik dan Advokasi.

Bagaimana dengan keluarga? Menurut Atatin, keluarga adalah mereka yang selalu menjadi ”support system”. “Pertama, saat kita tidak tahu harus ke mana, keluarga adalah mereka yang selalu menerima kita sebagaimana kita adanya.” Kedua, lanjut Atatin, keluarga adalah mereka yang tetap ada bagaimanapun kondisi kita. Ketiga, keluarga adalah mereka yang setia mendengar dan mendukung mimpi-mimpi kita. “Dan, keluarga tidak hanya terbatas dari bapak, ibu, kakak dan adik tapi juga mereka, sahabat dan teman yang selalu ada dalam suka dan duka,” tutur advokat yang tergabung di wadah IKAPS (Ikatan Advokat Perempuan Semarang).

Karena itu, Atatin mengaku bersyukur bisa menjalani dan menikmati hidup bersama keluarga.  Baginya, kebersamaan dengan keluarga adalah liburan terbaik. Bukan di balut dalam nuansa kemewahan, namun berada dalam dekapan kehangatan keluarga. Last but not least, keluarga adalah mereka yang bersamanya kita nyaman dan menjadi diri sendiri,” ucapnya.

Baca juga:  Semakin Tertantang Tangani Kasus Besar

DI sela waktu luangnya saat tidak beracara, Atatin kerap manfaatkan waktunya untuk berkeliling ke daerah-daerah di Jawa Tengah. Bertemu dengan sahabat-sahabat Fatayat dengan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan perempuan. Juga perlindungan perempuan dan anak sesuai bidangnya. “Biasanya saya lakukan itu saat weekend,” ucap perempuan penyuka laut dan ketenangan ini.

Ditanya soal pola mendidik anak, Atatin menyampaikan, anak merupakan  amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, Atatin membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama yang baik. “Untuk yang usia SD, saya sekolahkan di sekolah yang basic agamanya kuat. Pemilihannya murni dari saya.” Sedangkan untuk jenjang SLTP dan SLTA, perpaduan antara pilihan Atatin dan anak.

“Anak-anak  saya mondok di jenjang SLTP dan SLTA, karena saya merasa pondok adalah lembaga terbaik untuk membangun karakter, berlatih memenej diri, memenej waktu, memenej keuangan, berlatih adaptasi dan interaksi dengan berbagai karakter dari teman-teman santri di seluruh Indonesia. Kemudian juga mendapat barokah dan ilmunya bersanad sampai ke Nabi Muhammad SAW,” pungkas perempuan yang selama pandemi Covid-19, punya hobi baru membuat roti. (ida/isk)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya