alexametrics

Dampingi Guru Korban Pinjol

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Wajahnya pernah wara-wiri di layar kaca, karena menjadi penasihat hukum tersangka kasus Keraton Agung Sejagat yang sempat menghebohkan jagat Tanah Air pada awal 2020 silam.

Pembawaannya tenang. Sosoknya juga ramah. Sofyan, pria kelahiran Kabupaten Semarang pada 12 Juli 1983 ini, tak akan pernah lupa duduk di podium acara talkshow ILC  yang mengundangnya. Kala itu, talkshow terfavorit di TVOne tersebut,  mengangkat tema kasus Keraton Agung Sejagat. “Selain diundang ke TVOne, juga beberapa kali live di TV,” kenang Sofyan.

Terkini, Sofyan juga tengah menangani kasus yang sedang  heboh. Ia mendampingi guru yang jadi korban pinjaman online.  Pinjamnya tidak seberapa, tapi total tagihan dan bunganya mencapai ratusan juga. Kasus ini pun jadi atensi masyarakat luas.

Baca juga:  Jualan Kacang Atom untuk Menyambung Hidup

Soal pinjol ini, Sofyan berpendapat, tak lagi bisa dianggap sebagai problem personal yang bersifat privat. Karena saat ini masyarakat luas, jelas-jelas sudah menjadi korban jeratan dan petaka pinjol ilegal. “Karenanya, perkara ini sejatinya adalah perkara publik luas yang harus menuntut tanggung jawab pemerintah,” sentilnya.

Sofyan menilai, pemerintah melalui leading sektornya  telah terlambat mengantisipasi, sehingga korban jeratan pinjol ilegal terus bermunculan. “Menurut saya, saatnya negara hadir melindungi warga negaranya, karena kewajiban negara secara konstitusi beberapa di antaranya adalah untuk menyejahterakan rakyatnya. Untuk menjamin terselenggaranya keadilan dalam hukum dan pemerintahan dan melindungi segenap tumpah darah warganya,” beber Sofyan.

Sofyan tercatat advokat spesialis Hukum Administrasi Negara dan Pertanahan. Ia menangani perkara publik, perkara privat dan korporat. Juga menjadi konsultan legal perusahaan asing di Semarang, juga BUMD di Salatiga.

Baca juga:  Advokat Berdiri Bersama Rakyat

Di sela kesibukannya beracara, Direktur Mediations House Mohammad Sofyan & Partners ini tetap menyempatkan diri menuntaskan hobinya. “Saya kebetulan hobi baca, menulis, dan berapresiasi sastra serta kesenian,” ucap Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Cabang Salatiga ini.

Moto hidupnya: “Hati nurani adalah suara abadi daripada kebenaran dan keadilan. Yaitu, suara yang tidak dapat dibungkam oleh apa-apa pun, karena hanya satu hal yang menghina Tuhan, yaitu ketidakadilan.”

Disinggung soal peran Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Sofyan berpendapat, LBH merupakan representatif civil society dalam sistem demokrasi. “Atau sesuai dalam tata pemerintahan kita, maka LBH atau organ sejenis, paling tidak harus mampu bergerak dan terlibat untuk mengurai berbagai macam problematik hukum di Indonesia,” beber Sofyan.

Baca juga:  Ikuti Jejak Adnan Buyung Nasution

LBH maupun lembaga sejenis, sambung Sofyan, musti mendidik masyarakat selaku subjek hukum, agar publik  punya kesadaran kritis soal hukum. Sehingga harapan yang hendak dicapai, salah satunya,  terwujudnya tertib hukum dengan turunnya indeks angka kejahatan.

Outputnya, masyarakat diharapkan punya  kemampuan untuk memonitor kinerja aparat penegak hukum agar berjalan sesuai dengan fungsi dan perannya. “Agar (aparat penegak hukum) tidak bertindak secara abuse of power yang merugikan diri para pencari keadilan (yustaible),” ucap Sofyan. (*/sas/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya