alexametrics

Pemprov Jateng Dukung PLTS Atap

RADARSEMARANG.ID, Semarang Pemprov Jateng bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara virtual di pabrik Danone-Aqua di Klaten Selasa (6/10). Pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik (PV) tersebut saat ini merupakan yang terbesar di Jawa Tengah yang diprakarsai oleh industri.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwi Atmoko dan juga Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Klaten mengatakan, Pemerintah Jawa Tengah memiliki komitmen kuat untuk mengatasi masalah perubahan iklim dengan menerapkan energi bersih dan terbarukan. Termasuk dengan memprioritaskan penggunaan energi surya. “Komitmen kami terwujud melalui target realisasi penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 21,32 persen di 2025,” katanya.

Baca juga:  Bawang Putih Surplus, tapi Sulit Jual

Ia menerangkan, untuk mendorong pembangkitan tenaga surya, sesuai dengan ketentuan dalam RUEN memberlakukan kewajiban pemanfaatan sel surya sebesar 30 persen dari luas atap untuk seluruh bangunan pemerintah dan 25 persen dari luas atap untuk bangunan rumah mewah. “Di lingkungan Pemprov sudah melaksanakan amanat ini, misalnya Dinas ESDM dengan kapasitas 35 KWp, Bappeda dengan kapasitas 30 KWp pada 2018 dan di kantor Sekretariat Dewan Provinsi Jateng dengan kapasitas 30 KWp pada 2019,” bebernya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, dukungan penggunaan PLTS ditandai dengan diterbitkannya Surat Edaran nomor 671.25/0004468 awal Maret tahun lalu. “Saat ini di Jawa Tengah, melalui berbagai sumber anggaran, baik dari Pemerintah maupun dari sektor swasta dan masyarakat umum, telah terbangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, kurang lebih sekitar 127 unit dengan kapasitas total sekitar 5.199 KWp,” tuturnya.

Baca juga:  Kuartal IV, Bisnis Properti Masih Lesu

Dunia industri, lanjut dia, bisa memberikan dukungan dengan mengembangkan teknologi dan pembuatan baterai. Sementara itu, akademisi bisa membuat kajian dan penelitian untuk pengolahan limbah agar tidak berbahaya bagi lingkungan. (den/ton/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya