alexametrics

Okupansi Hotel Masih Rendah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Semarang sudah diperlonggar, namun belum memengaruhi tingkat okupansi hotel. Terbukti tingkat okupansi hotel di Kota Lunpia masih rendah selama masa pandemi Covid-19.

Seperti halnya Hotel Grand Candi yang okupansinya masih di angka 30 persen. Public Relation Grand Candi Hotel Azkar Rizal Muhammad mengatakan, tingkat okupansi tersebut sejak dua bulan terakhir masih fluktuaktif. Artinya, naik turunnya tingkat hunian kamar masih belum stabil.

“Belum stabil, kadang okupansi bisa 40 persen. Besoknya bisa anjlok ke 10 persen. Tapi selama Agustus kemarin, rata-rata di 30 sampai 50 persen,” ujar Azkar, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (1/9/2020)

Baca juga:  Peringati Hari Ibu, Zumba Berkebaya

Dikatakannya, pelonggaran PKM dan adaptasi kebiasaan baru belum dirasa cukup membantu naiknya okupoansi. Dari total 198 kamar yang ada di Grand Candi, yang dibuka sejauh ini hanya empat lantai. “Kami tidak buka semua lantai. Tergantung tingkat huni saat itu. Kalau pas sepi, kami buka satu lantai. Dari total kamar itu, rata-rata hanya terisi 40 kamar,” imbuhnya.

Karenanya, manajemen kini menggencarkan promo melalui diskon kamar. Hal ini dilakukan agar tingkat hunian bisa kembali naik. Selain itu, untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19, pembayaran sudah sedikit diubah. “Di Grand Candi sudah menerapkan era touchless,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Public Relations Hotel Ciputra Semarang, Shela Tiara. Dikatakannya, pandemi Covid-19 menyebabkan event yang sudah direncanakan terpaksa ditunda. Keputusan dilakukan dengan alasan peningkatan kewaspadaan dan meminimalisasi risiko terkena virus. Namun, acara weeding sudah mulai terselenggara. Dengan catatan, pembatasan undangan terbatas. “Ada beberapa institusi yang memilih menunda pelaksanaan acaranya di Semarang,” jelasnya.

Baca juga:  FIFGroup Berikan Bantuan 500 Paket Sembako

Penurunan okupansi dialami pula Hotel Ciputra Semarang, yang biasanya menjadi jujukan kalangan ekspatriat untuk menginap. “Misalnya tamu dari China dan Jepang, saat ini sangat berkurang, belum lagi dari negara lainnya. Jumlah tamu ekspatriat sebesar 10 persen sampai 15 persen dari total okupansi,” katanya.

Untuk mengantisipasi virus tersebut, pihak hotel selalu memberikan imbauan kepada para tamu yang menginap, jika merasakan tidak enak badan untuk menghubungi pihak hotel. (avi/ida/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya