Apindo Tunggu Stimulus Pemerintah

193
Frans Kongi

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng saat ini sedang menunggu kucuran stimulus yang dijanjikan pemerintah. Yakni, berupa stimulus modal kerja bagi sektor usaha pun keringanan lainnya berkaitan dengan proses produksi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menuturkan anggota Apindo Jateng berjumlah 1.600 orang. Mereka saat ini sedang menunggu respon pemerintah dalam menyelamatkan dunia usaha. Pasalnya, dampak pandemi Covid-19 menyebabkan seluruh produksi terhambat secara besar-besaran. Ekspor masih ditutup dan itu berdampak pada beberapa karyawan yang sempat dirumahkan.

“Menunggu stimulus untuk modal kerja, karena defisit kas perusahaan sudah tidak ada lagi. Cash flow sekarang sudah habis,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (31/7/2020).

Menurutnya, perlu respon cepat untuk bahu-membahu menolong dunia usaha. Stimulus yang diberikan nanti untuk sektor manufaktur, garmen, kayu, hotel, elektronik, dan kayu. Pun stimulus itu berlaku juga pada pemberian subsidi bunga Bank Indonesia (BI) yakni sebesar 4,5 persen. Dikatakan Frans, stimulus itu diharapkan berlaku hingga satu tahun ke depan.

“Karena teman-teman pengusaha sedang mengalami tekanan. Oleh karena itu, kami menunggu stimulus agar aktivitas perekonomian benar-benar pulih kembali,” imbuhnya.

Data yang dihimpun dari Apindo, sebanyak 1.600 perusahaan yang bergabung mayoritas concern pada industri manufaktur. Tersebar di beberapa kabupaten/kota di Jateng, sebut saja Kendal, Pekalongan, Batang, Kudus, Semarang dan Kabupaten Semarang. Mereka biasa mengekspor hasil produksi pada negara tujuan yakni China dan Amerika. Di luar kedua negara tersebut, ekspor diusahakan tetap dilakukan. Selama negara yang dituju tidak menerapkan PSBB.

“Bahan baku dari Tiongkok sudah mulai masuk. Mereka sudah mulai menerima pesanan, meski tidak terlalu banyak. Pabrik garmen di Boyolali contohnya, sudah 70 persen sudah kembali beraktivitas dan pabrik kayu juga sudah mulai naik,” katanya menjelaskan.

Sudah beroperasinya beberapa perusahaan di anggapnya pertanda baik. Maka dari itu, respon cepat dari pemerintah sangat diharapkan. Bagi perusahaan yang masih beroperasi, ia mengaku bersyukur. Namun bagi yang belum, stimulus berupa keringanan pajak dan relaksasi wajib diberikan. Kabarnya, Agustus nanti realiasasi tersebut bisa terwujud.

“Stimulus itu untuk bantu kami bernafas. Ya kita sesuaikan dengan porsi perusahaan yang terdampak betul dengan perusahaan yang masih bertahan. Namun, saya kira sampai Desember akan jalan pelan. Tahun depan mulai recovery,” tutup Frans. (avi/ida/bas)