alexametrics

Dari 1.600 Nasabah, Hanya 90 yang Ajukan Keringanan Kredit

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebanyak 1.600 nasabah Perumda BPR Bank Pasar Kota Semarang, hanya 90 nasabah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau 5,6 persen yang mengajukan keringanan. Bahkan, sebagian besar tak bersedia ditawari kredit wibawa program Pemkot Semarang yang memberikan bunga ringan.

Direktur Utama (Dirut) Perumda BPR Bank Pasar Kota Semarang Agus Puji Kusumanto menjelaskan, sebagian pelaku UMKM yang masih bisa survive, meski pandemi covid-19 telah menumbangkan yang lain. Jumlah yang mengajukan keringanan dibanding dengan total nasabah, sangat kecil,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (6/7/2020).

Padahal keringanan angsuran yang diberikan selama pandemi, katanya, penundaan pembayaran yang berlaku selama tiga bulan. Jika selama 3 bulan belum ada perkembangan pemasukan, penundaan pembayaran bisa diperpanjang menjadi 6 bulan. Setelah dilihat 6 bulan sudah stabil dan meningkat, maka kembali ke angsuran normal. “Efek pandemi ini, kami kekurangan nasabah. Sebagian nasabah memang banyak yang mengaku tak mau terbebani angsuran di tengah pandemi covid-19,” katanya.

Baca juga:  Pandemi, BPR Arto Moro Justru Tumbuh 25 persen

Data Perumda Bank Pasar Semarang menyebutkan, sejak awal Januari 2020 sampai sekarang sudah Rp 12 miliar lebih dikucurkan kepada nasabah. Seperti diketahui jika semua nasabah program kredit wibawa merupakan pelaku UMKM di Kota Semarang. “Untuk yang semuanya masih aman atau tidak mengajukan angsuran yaitu program lain seperti program kredit untuk ASN,” katanya.

Dikatakannya, program untuk kredit wibawa sendiri sebenarnya untuk membantu UMKM. Plavon yang diberikan juga tidak banyak, maksimal Rp 5 juta. Nasabah kredit wibawa bisa mengajukan lebih dari jumlah tersebut, tapi dengan agunan atau jaminan. “Jaminannya bisa sertifikat tanah atau BPKB kendaraan,” ungkap Agus.

Di masa pandemi ini, Bank Pasar terus berupaya menggenjot jumlah nasabah program kredit wibawa. Namun fakta di lapangan, banyak pelaku UMKM yang menolak tawaran pinjaman program itu selama pandemi covid-19. “Jika dibandingkan bulan sebelumnya, masyarakat yang bersedia melakukan kredit menurun sampai 30 persen,” beber Agus.

Baca juga:  Suhu Minus Tiga Derajat, Dieng Membeku

Sementara itu, sebanyak 17 ribu UMKM berizin di Kota Semarang, ternyata hanya 1.538 UMKM yang menyatakan merasa terdampak. Dikatakannya, jumlah tersebut adalah 10 persen dari total keseluruhan pelaku UMKM.

“Bukan hanya UMKM, semua lini sebetulnya terdampak. Karena dampak pandemi ini multi effect. Nah, dari 1.538 UMKM ini menyampaikan ada yang betul-betul tidak bisa melanjutkan usahanya seperti semula,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, FX Bambang Suranggono, Senin (6/7/2020) kemarin.

Bambang mencontohkan UMKM konveksi. Karena tidak bisa melanjutkan usahanya semula, kini berubah menjadi pembuat masker. Hal tersebut menjadi salah satu inovasi dari pelaku itu sendiri menyiasati pandemi covid-19. “Kemarin ada kegiatan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng, tercatat beberapa UMKM di Kota Semarang membuat total 97.626 masker,” imbuhnya.

Baca juga:  BLU Trans Semarang Tempatkan Dua Thermal Camera

Dampak tersebut, membuatnya intensif melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM Kota Semarang. Ini respon cepat Pemkot Semarang. “Saat ini kami sedang mengembangkan sejumlah upaya inovasi dalam rangka mendorong UMKM di Kota Semarang agar tetap bertahan. Salah satunya melalui perizinan UMKM,” katanya.

Begitu punya IUMK, mereka berhak mendapatkan empat layanan dari Dinas Koperasi dan UMKM, pendampingan, pendidikan pelatihan, pemasaran dan pembiayaan murah dan mudah tersebut. (avi/ida/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya