Beranda Advertorial Komunikasi Bisnis Pelari Kenya Rajai Borobudur Marathon Pelari Indonesia Curi Podium

Pelari Kenya Rajai Borobudur Marathon Pelari Indonesia Curi Podium

0
Pelari Kenya Rajai Borobudur Marathon Pelari Indonesia Curi Podium
JUARA HALF MARATHON PUTRI : Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berpose dengan para juara kategori half marathon overall putri di ajang Borobudur Marathon, Minggu (17/11). (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, MUNGKID–Para pelari asal Kenya merajai lomba lari internasional Borobudur Marathon (BorMar) 2019 yang berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Minggu (17/11). Pelari Kenya Geoffrey Kiprotich sukses merebut hadiah utama pada nomor Marathon Overall Putra dengan catatan waktu dua jam 19 menit dan 36 detik.

BERLARI : Para pelari Borobudur Marathon tahun 2019 memulai start dari Taman Lumbini komplekS Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Minggu (17/11). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)
BERLARI : Para pelari Borobudur Marathon tahun 2019 memulai start dari Taman Lumbini komplekS Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Minggu (17/11). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

Bagi Geofrey, prestasi tersebut membuatnya mempertahankan gelar juara di Borobudur Marathon di tahun 2018 dan 2019 ini. Dia menyentuh garis finish pertama dibanding rekan senegaranya yakni Tonui Kiprop (02:21:25) dan Robert Wambua Mbithi (2: 24:08). Menjuarai nomor utama di Borobudur Marathon 2019, Geoffrey berhak membawa pulang hadiah Rp 180 juta. Sedangkan Tonui memperoleh Rp 150 juta.

“Ini gelar kedua beruntun. Saya senang tampil di Borobudur Marathon 2019. Saya sempat berlatih di Malaysia terlebih dulu karena cuacanya kan hampir mirip dengan di sini,” kata Geoffrey kepada wartawan sesuai lomba.

Sedangkan pada kategori marathon putri, pelari Kenya juga menjadi yang terbaik yakni Peninah Kigen (03:01:44). Dia mengungguli kompatriotnya Edinah Mutahi (03:04:06) yang finish kedua. Kejutan terjadi ketika pelari Indonesia Irma Handayani (03:10:17) sukses finish ketiga di marathon putri. Untuk maraton putra kategori Indonesia, gelar juara dipegang Asma Bara.

Irma Handayani merupakan pelari asal Samarinda, Kalimantan Timur. Bagi Irma, podium ketiga merupakan prestasi menggembirakan dalam keikusertaanya ketiga kalinya di Borobudur Marathon. “Targetnya memang masuk tiga besar. Ternyata tepat, bisa masuk. Sudah sering latihan sebelumnya, dan sudah ikut Borobudur Marathon dari pertama. Rute favorit memang Borobudur, meski cuaca di Borobudur ternyata lebih panas dibanding di Kalimantan,” senyumnya sumringah.

Irma mengaku sudah berlatih sejak dua bulan lalu dengan berlari di sekitar Borobudur. Race Borobudur menurutnya cukup lumayan hanya faktor cuaca saja yang kurang mendukung. “Kalimantan panas, ternyata lebih panas Borobudur. Tanjakan Borobudur yang dikenal menantang, bagi saya tanjakannya biasa saja. Bagus pelaksanaan Borobudur Marathon tahun ini. Racenya, steril jalannya. Selain itu, ada energi tambahan adalah warga di sepanjang jalan support, juga ada tarian anak-anak di kanan kiri, aneh tapi lucu. Dan bikin semangat,” ujarnya sambal mengaku membawa pulang hadiah Rp 120 juta.

Penyelenggara Borobudur Marathon 2019 Budiman Tanuredjo sangat bangga atas pencapaian prestasi pelari nasional, Irma Handayani. Ke depannya pihaknya ingin para pelari asal Indonesia mampu menembus juara dan memecahkan rekor sendiri. “Kita harus bangga, karena Mbak Irma adalah pelari nasional pertama yang menembus dominasi pelari Afrika,” imbuhnya.

Sementara itu di nomor half marathon putra kategori Indonesia atlet lari nasional Agus Prayogo menjadi juara dengan mencatatkan waktu 1 jam 11 menit 31 detik. Juara kedua dan ketiga level nasional, diraih Nurshodiq (01: 12:08) dan Rikki Simbolon (01:12: 46). Juara half marathon nasional putri Afriana Paijo (01: 29:22), diikuti Adriana Waru (01: 31:31) dan Yulianti Utari (01:31:44).

Catatan waktu Agus Prayogo jauh dibanding juara kategori half marathon overall putra, yaitu John Maururi dengan waktu (01: 04: 58). Juara kedua dan kategori ini direbut atlet Kenya lainnya, Nigare Joseph dam Charles Munyua. Di bagian lain atlet Kenya Esther Wambui Karim menjadi tercepat half marathon overall putri dengan waktu (01: 15: 27), disusul Cheptoeck (Kenya/01: 15:46) dan Bundotich Pamela (Kenya/01:23:34).

Budiman juga mengatakan, pelaksanaan Borobudur Marathon 2019 berjalan lancar berkat kerja sama semua pihak. Terutama kepolisian dan TNI serta Pemkab Magelang/Pemprov Jawa Tengah. Bagi Budiman, segala persiapan yang dilakukan panitia dan penyelenggara, berjalan baik dari sebelum dan sesudah acara.

Pelaksanaan tahun ini, ujarnya, lebih matang dan siap, mengingat tahun sebelumnya ada salah satu pelari yang meninggal dunia karena kelelahan. “Kami memberikan edukasi dan melakukan tour ke-11 kota untuk bertemu komunitas pelari, dan meminta saran. Seminggu sebelum race, kami mengecek suhu. Kami juga memberikan informasi kepada pelari bahwa suhu akan tinggi. Kami berharap, setiap tahun semangat event Borobudur Marathon untuk Indonesia, untuk dunia. Kami juga berharap ini bisa masuk dalam event dunia,” paparnya.

Sejumlah tokoh hadir melepas para pelari, di antaranya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Dirut Bank Jateng Supriyatno, Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, Ketua Umum KONI Jateng Subroto dan Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An. “Borobudur Marathon ini adalah marathon terbaik di Indonesia karena hanya maraton ini yang resmi diakui PB PASI,” kata Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang ikut berlari dalam kategori 10 K, menargetkan agar event Borobudur Marathon menjadi the best Marathon Indonesia. Anggapan ini, kata Ganjar, didasari dengan pelaksanaan Borobudur Marathon yang semakin baik dan bagus. “Kami juga mengapresiasi model ballot atau pengundian untuk pendaftaran Borobudur Marathon. Sehingga yang mendaftar duluan belum tentu dapat, meskipun kesempatannya sama,” tegasnya.

Ganjar mengungkapkan para peserta menginginkan suasana baru yang lain, dan tidak hanya berlari saja. Artinya, pelari juga bisa melihat pemandangan dan bertemu dengan sesuatu yang unik. Bagi Ganjar, apa yang disajikan dalam Borobudur Marathon menjadi penting untuk dinikmati. Sehingga suatu event menjadi menyenangkan. Borobudur Marathon, menurutnya, memiliki keistimewaan seperti lokasi atau race dengan tingkat keterkenalan yang luar biasa yakni Candi Borobudur.

“Tiap tahun pasti ada gimmick-gimmick menarik dan tentu saja hadiahnya besar. Kegiatan bertaraf internasional ini memiliki dampak luar biasa ke masyarakat. Semua penginapan sudah habis di-booking 3 bulan sebelum pelaksanaan. Bahkan sekarang sudah masuk ke rumah-rumah. Balkondes pun penuh,” tandasnya.

Ganjar juga memberikan evaluasi bahwa pelaksanaan Borobudur Marathon pada tahun-tahun ke depan memerlukan infrastruktur berupa race yang mendukung. Untuk itu, pihaknya akan mendorong perbaikan bidang infrastruktur di sekitar Candi Borobudur, termasuk penyediaan penginapan. “Saya kira tugas saya untuk mengeksekusi infrastruktur pendukung ya. Sehingga pada saat lari, betul-betul sangat nyaman. Diberikan catatan kepada kami, bahwa jalannya kurang lebar. Makanya saya apresiasi dari Pemkab Magelang, dari pusat, jalannya sudah bagus. Sampai kampung saja tadi sudah licin, aspalnya bagus,” imbuhnya. (had/lis/bis/ida)