alexametrics

Trenyuh Dapat Ucapan Terima Kasih dari Pasien

Relawan Covid-19 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Relawan Covid-19 menjadi salah satu garda terdepan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.  Indah Wijayanti, Dwi Ayu Cahya Utami, dan Yulia merupakan relawan Covid-19 yang ada di Rumah Dinas (Rumdin) Wali Kota Semarang.

Indah Wijayanti dan Dwi Ayu Cahya Utami bergabung menjadi relawan di rumdin sejak lulus kuliah. Sedangkan Yulia sudah lebih dulu menjadi relawan covid.  Mereka ditugaskan untuk menangani pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di tempat tersebut.

“Karena kecintaan terhadap profesi nakes dan kemanusiaan  dan untuk lebih mengasah skill yang sudah didapat ketika kuliah. Dua alasan ini yang menguatkan saya terlibat langsung menjadi relawan covid di rumah dinas wali kota ini,” kata Yulia kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (5/8/2021).

Baca juga:  Butuh Kebijakan Recovery Semua Sektor, Hidupkan Kembali Jateng

“Selain itu, untuk menambah wawasan juga. Kita lebih bisa menambah kemampuan kita dengan ikut terjun bantu pandemi,” tambah Indah.

Ia menjalani tanggung jawab menjadi relawan dengan jadwal tiga hari dalam seminggu. Sejumlah pekerjaan dijalankan Indah, di antaranya melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien, dan melakukan tes swab dan PCR kepada pasien. Selain itu, setiap pagi melakukan pemeriksaan, dan activity day living, meliputi menyiapkan makan dan mandi. Juga memberikan obat, dan terapis bagi pasien.

“Kami juga dapat tugas memberikan hiburan setiap habis isya’. Seperti karaoke bersama pasien, salat jamaah, senam pagi, dan sore, latihan pernafasan, serta memberikan game agar pasien tidak stres dan bosan,” ungkapnya.

Diakui,  rasa takut dan cemas memang tak bisa dihindari ketika menjadi seorang relawan Covid-19. Sebab, korona ini merupakan virus yang ganas.

Baca juga:  Isoman Iso, Bantu Warga yang Jalani Isolasi Mandiri

“Ketakutan pasti ada. Tapi kita juga  sudah tahu untuk antisipasi dengan mematuhi prokes, pakai Alat Pelindung Diri (APD), cuci tangan rutin, dan jaga jarak untuk meminimalkan penularan,” ungkap Dwi.

Dwi mengakui, menjadi relawan covid bukan suatu hal yang mudah. Butuh proses seleksi dan hambatan lain. Seperti dilarang oleh keluarga saat meminta izin. “Orang tua saya awalnya tidak mendukung. Terus saya beri  penjelasan akhirnya dibolehkan,” tuturnya.

“Karena kami di sini juga full aktivitas, kami juga harus menambah nutrisi diri. Harus cukup makan, tetap bahagia, dan mengonsumsi vitamin,” imbuh Indah.

Ketiganya mengaku awal mula menjadi tenaga relawan bukan karena adanya paksaan. Namun atas panggilan jiwa dari diri masing-masing. “Ketika ada info dibutuhkan relawan ya akhirnya kami mencoba. Dengan bikin lamaran, cek kesehatan, dan lainnya,” tuturnya.

Baca juga:  Perkumpulan Minnan Gonghui Semarang Gratiskan Makan Siang Warga Isoman

Yulia menuturkan, banyak kenangan manis yang didapat selama menjadi tenaga relawan di rumdin “Semua berkesan sih, tapi yang paling berkesan ketika kita melihat pasien pulang dengan keadaan negative, dan kondisinya membaik. Ditambah lagi dapat ucapan terima kasih dari pasien, itu yang bikin trenyuh,” tutur Indah.

“Tambah lagi Mas, yang paling berkesan adalah cinlok alias cinta lokasi,” celetuk Yulia. “Untuk kenangan menyedihkan rasanya tidak ada, semoga jangan sampai ada lah,” imbuhnya. (cr5/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya