alexametrics

Bangun Jutaan Jamban, Dikenal sebagai ‘Dokter Jamban’

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dr dr Budi Laksono MHSc dikenal sebagai dokter yang berjiwa sosial tinggi. Ia sangat memperhatikan kesehatan masyarakat, dan sering terjun menjadi relawan ke daerah-daerah bencana untuk menolong para korban. Ia  juga getol dan konsisten mengampanyekan gerakan pembangunan jamban di rumah-rumah warga.

Sejak muda, Dr Budi suka kegiatan sosial dan sukarelawan. Ia aktif di kepramukaan, dan menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI). Dari kegiatan-kegiatan yang diikuti, ia memiliki banyak ilmu tentang penanganan bencana. Beberapa daerah bencana yang pernah didatangi untuk menjadi relawan, di antaranya bencana Jogja, Lampung, Jawa Barat, tsunami Aceh, Palu, Lombok, Sigi, bahkan pernah ke Thailand dan Filipina.

Budi mengaku, bencana terparah yang didatangi yakni saat terjadi tsunami Aceh pada 2004.  “Yang paling membuat saya terharu itu saat bencana tsunami Aceh. Itu bencana terburuk, tapi kami bersyukur bisa memberikan bantuan di Aceh. Di mana kami memiliki beberapa konsep temuan teknologi tepat guna yang kita ambil dari kesulitan-kesulitan di sana. Ini sangat luar biasa, karena kami bisa mengimplementasikan semua ilmu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat pandemi Covid-19, Budi menjadi orang pertama yang ikut mengampanyekan penggunaan masker sejak Maret 2020. Tidak harus masker bedah, namun masker kain pun bisa digunakan untuk melindungi diri dari virus Covid-19. Ia telah melakukan uji penelitian untuk membuktikannya sendiri dengan menambahkan tisu pelindung bahwa masker kain juga sangat layak dipakai.

Ia juga mengampanyekan pemakaian handsanitizer. Kampanye sosial ini dilakukan di seluruh Kota Semarang dibantu oleh aparat Kodim. Ia membagikan lebih dari 15 ribu liter handsanitizer berbahan benzalkonium chloride yang ia uji sendiri di laboratorium. Handsanitizer dibagikan ke seluruh Koramil di Kota Semarang, untuk kemudian diberikan ke masyarakat. Ia juga menginisiasi pembuatan face shield selain masker bagi para tenaga kesehatan (nakes).

Baca juga:  Trenyuh Dapat Ucapan Terima Kasih dari Pasien

“Saat awal pandemi itu, face shield sangat mahal, dan banyak dokter memerlukannya untuk bertugas. Jadi,  kami membuat face shield sederhana dari plastik, namun aman,” ujar dokter  kelahiran Semarang, 6 Maret 1963 ini.

Doktor Budi juga memiliki banyak temuan yang dimodifikasi sendiri, seperti aerosol box protection yang dipakai oleh dokter untuk pemeriksaan secara aman kepada pasien Covid-19 yang terbuat dari mika. Ada juga Formulasi Spari Lingkungan dengan harga yang lebih terjangkau. “Ada temuan transparent medic. Dengan alat ini, dokter tidak perlu kontak langsung dengan pasien,” katanya.

Tak hanya itu, dosen Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini juga memperkenalkan sterilisator ultraviolet udara BC19. Ultraviolet merupakan cahaya yang efektif membunuh virus, dan digunakan dalam sterilisasi di seluruh dunia.

“Temuan yang lebih simpel adalah ultraviolet sterilisator. Ini berguna untuk membersihkan atau mensterilkan udara di sekitar ruangan. Basic-nya ultraviolet itu sebagai pembunuh virus, namun formula ini tidak sembarang dipakai, karena hanya untuk ruangan tertutup. Seperti ruang bedah dan ruang operasi. Namun Budi memodifikasi formula ultraviolet tadi agar bisa digunakan di udara yang terlewati ultraviolet,” ucap pria yang memilih pensiun dini sebagai PNS Dinas Kesehatan Provinsi Jateng ini.

Setelah ultraviolet sterilisator, ia juga memformulasikan ultraviolet money sterilisator untuk mengidentifikasi pada uang. Ozone sterilisator untuk sterilisasi ruangan dengan tenaga ozon. Swab test modifikasi dengan harga sederhana, tidak semahal seperti di pusat. Vape sterilisator untuk sterilisasi dengan uap. Budi juga membuat obat herbal Jamu Jogodoyo untuk memulihkan stamina orang-orang yang terkena covid.

Baca juga:  Tak Lelah Berjuang demi Kemanusiaan

Temuan lainnya, termo manisteriliser, yakni sterilisasi uang dengan tenaga termo atau dengan lampu panas. Juga temuan hiperoksidatif bening untuk pemusnahan masker bekas pakai. Doktor Budi juga berinovasi peti jenazah reuzable untuk pasien Covid-19 yang bisa ditarik lagi petinya jika jenazah sudah diletakkan di liang kuburnya. “Saya juga menggagas klinik covid management secara online,” katanya.

Di samping menjadi seorang dokter dan dosen, Budi juga sebagai penggagas program jambanisasi. Program ini untuk membantu rakyat Indonesia yang tidak memiliki jamban di rumah mereka. Bersama Yayasan Wahana Bakti Sejahtera, Budi telah merealisasikan jutaan jamban keluarga di berbagai daerah di Indonesia. Dengan konsep Jamban Amphibi Disposal atau toilet yang dibuat dengan cepat dan murah, bahkan lebih murah lagi jika dengan tenaga sukarelawan. Untuk saat ini, biaya pembuatan satu jamban sehat sekitar Rp 500 ribu. “Itu semua dilakukan demi pelayanan dan kemajuan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Atas kiprah kemanusiaan dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat itu, Doktor Budi menerima banyak penghargaan. Ia empat kali menerima sertifikat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Salah satunya sertifikat MURI pada 2019 untuk rekor Pembuatan Jamban Berkelanjutan Terbanyak, selama 4 tahun berhasil membangun 1.037.674 unit jamban. Selain itu, ia pernah menerima penghargaan Karya Satya Lencana Kesetiakawanan Sosial dari Presiden Joko Widodo. Karena sering membangun jamban, alumnus S3 Program Biomedik dan Kesehatan Undip ini pun dikenal sebagai dokter jamban.

Baca juga:  Perkumpulan Minnan Gonghui Semarang Gratiskan Makan Siang Warga Isoman

Ada sejumlah pengalaman selama menjadi dokter jamban. Misalnya, di daerah Semarang Selatan, ada warga lumpuh dengan kondisi yang sangat menyedihkan, ketika buang air harus dibopong. Tapi setelah dibuatkan jamban di samping kamarnya, warga tersebut bisa dengan mudah buang air.  “Di daerah Semarang Utara, saya  pernah mendapat protes ketika membongkar WC umum yang berakibat tertundanya pembongkaran,” katanya.

Hal yang menegangkan juga dialaminya ketika membangun jamban dengan penjagaan ketat di wilayah kesatuan tentara. Ia juga kerap dipandang sebelah mata karena penampilan yang sederhana dan seadanya. Namun banyak yang respect setelah mengetahui Doktor Budi adalah penggagas program satu juta jamban.  Konsep jamban murah ini pun diadopsi oleh TNI AD, sehingga salah satu program TMMD di seluruh Indonesia adalah membuat jamban.“Sejak 2015 hingga saat ini sudah satu juta jamban dibangun oleh bapak-bapak tentara di seluruh Indonesia.

Program ini masih akan terus berlanjut, kami sedang menuju gerakan 20 juta jamban. Ini menjadi bagian program ‘WC For All’ sebagai nomenklatur kami,” katanya.Ia berharap, ketika pandemi Covid-19 sudah mereda, gerakan pembuatan jamban terus dilakukan. Karena saat ini, Indonesia termasuk negara dengan populasi keluarga yang tidak memiliki jamban tertinggi di ASEAN. “Warga di seluruh Indonesia harus memiliki jamban, harus sejahtera, dan harus nikmat dalam makan maupun buang air,” katanya. (mg1/mg6/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya